Cerita Akhir Tahun 2025 di Padang Pariaman , Hanya Dua Hari Saja Menjadi ASN P3K Paruh Waktu

0

 


Pagi itu, Senin 29 Desember 2025, lapangan pelantikan di Parit Malintang dipenuhi wajah-wajah bahagia. 


Ribuan tenaga honorer berdiri rapi, mengenakan pakaian terbaik mereka. Setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya satu kata itu resmi disematkan di dada mereka: ASN.


Di antara 1.758 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu yang dilantik Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, berdiri seorang pria sederhana bernama Syamsurizal. 


Sehari-hari, ia adalah tenaga kependidikan di SDN 11 Enam Lingkuang. Tak banyak yang tahu, di balik senyumnya pagi itu, ada kisah panjang tentang kesabaran dan pengabdian.


Puluhan tahun Syamsurizal datang ke sekolah dengan status honorer. Datang paling pagi, pulang paling akhir. Mengurus administrasi, membantu guru, memastikan sekolah tetap berjalan. Tanpa seragam ASN, tanpa kepastian masa depan. Hanya satu bekal yang ia pegang: tanggung jawab.


Ketika namanya dipanggil dalam prosesi pelantikan, Syamsurizal berdiri tegak. Ia resmi menjadi ASN pada 29 Desember 2025. Sebuah status yang selama ini hanya bisa ia dengar dari cerita orang lain.


Namun, kebahagiaan itu ternyata datang di ujung waktu.


Saat Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, menyampaikan sambutan, suasana mendadak berubah. Bupati memanggil Syamsurizal naik ke panggung, berdiri tepat di samping mimbar. Ribuan pasang mata tertuju padanya.


Di hadapan para ASN, Bupati menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus. Bukan sekadar formalitas. Ada rasa hormat kepada seseorang yang telah mengabdi lama, namun baru kini mendapatkan pengakuan negara.


Alasannya sederhana, tapi menghentak hati siapa pun yang mendengarnya.


Dua hari lagi, Syamsurizal pensiun.


Ia dilantik menjadi ASN pada 29 Desember. Dan pada 31 Desember 2025, ia harus purna tugas karena batas usia pensiun. Status ASN yang ditunggu bertahun-tahun itu, hanya bisa ia nikmati selama dua hari.


Tepuk tangan pun pecah. Bukan tepuk tangan biasa. Ada haru yang sulit disembunyikan. Banyak yang menunduk, banyak pula yang mengusap mata.


Bupati menyerahkan hadiah kecil sebagai tanda terima kasih. Satu per satu pejabat datang menyalami Syamsurizal. Ia menerima semuanya dengan senyum tenang—senyum orang yang telah lama berdamai dengan keadaan.


Kisah Syamsurizal bukan sekadar cerita personal. Ia adalah wajah dari ribuan tenaga honorer di negeri ini—mereka yang mengabdi dalam diam, bekerja tanpa sorotan, menunggu tanpa kepastian.


Tahun ini, kebijakan PPPK Paruh Waktu membuka tirai itu. Di berbagai daerah, ditemukan cerita serupa: ada yang pensiun dua hari setelah dilantik, ada yang seminggu, ada pula sebulan. Mereka guru, tenaga kesehatan, dan tenaga kependidikan—orang-orang yang selama puluhan tahun menjaga denyut pelayanan publik.


Kini, setidaknya, negara hadir. Walau terlambat bagi sebagian orang, pengakuan itu akhirnya datang.


Bagi Syamsurizal, mungkin gelar ASN hanya singgah sebentar. Tapi maknanya jauh lebih panjang dari dua hari. Ia pulang dengan kepala tegak, membawa satu kepastian: pengabdiannya pernah diakui.


Dan pagi itu, di lapangan pelantikan Padang Pariaman, banyak orang belajar satu hal sederhana—bahwa pengabdian tak selalu tentang berapa lama jabatan disandang, tetapi tentang ketulusan menjalani peran, bahkan ketika pengakuan datang di ujung perjalanan. (***/)

Posting Komentar

0Komentar

Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top