Oleh : Daffa Bintang Arrafi Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
![]() |
| www.freepik.com |
Generasi Z tumbuh dan berkembang di tengah laju teknologi yang begitu pesat. Sejak usia dini, kita sudah akrab dengan internet, media sosial, dan kini kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Tanpa disadari, AI hadir hampir di setiap aspek kehidupan sehari-hari: dari rekomendasi video di media sosial, saran lagu di aplikasi musik, hingga informasi yang muncul di mesin pencari.
Semua ini memang membuat hidup terasa lebih mudah, namun sekaligus memunculkan pertanyaan mendasar: apakah Gen Z masih mampu berpikir mandiri, atau justru sekadar mengikuti arah algoritma?
Algoritma bekerja dengan mempelajari kebiasaan pengguna. Apa yang sering kita tonton, sukai, dan cari akan dijadikan dasar untuk menampilkan konten serupa.
Pada awalnya, hal ini terasa menyenangkan karena kita disuguhi konten yang sesuai dengan minat. Namun, jika tidak disadari, algoritma dapat membentuk “ruang gema” yang sempit.
Kita hanya disajikan apa yang ingin kita lihat, bukan apa yang sebenarnya perlu kita ketahui.
Ketika seseorang terus-menerus menerima informasi yang seragam, kemampuan berpikir kritis perlahan bisa melemah. Informasi diterima begitu saja tanpa proses verifikasi.
Tak jarang, Gen Z ikut menyebarkan berita hanya karena sedang viral, tanpa mengecek kebenaran dan sumbernya. Di titik inilah berpikir mandiri menjadi sangat penting.
Berpikir mandiri berarti berani bertanya, tidak mudah terpengaruh arus, serta mampu menilai informasi secara rasional dan logis.
Di sisi lain, AI sejatinya memiliki banyak manfaat jika digunakan secara bijak. Dalam dunia pendidikan, AI dapat membantu proses belajar, mempercepat riset, dan membuka ruang kreativitas yang lebih luas.
Banyak pelajar memanfaatkannya sebagai alat bantu untuk memahami materi atau mencari inspirasi. Persoalan muncul ketika AI dijadikan jalan pintas, bukan pendukung.
Ketika semua jawaban diserahkan pada teknologi, kemampuan analisis, nalar, dan kreativitas manusia justru terancam menurun.
Tantangan terbesar Gen Z di era AI adalah menjaga keseimbangan. Kita tidak mungkin menolak kemajuan teknologi, namun kita juga tidak boleh sepenuhnya bergantung padanya. Gen Z perlu belajar memilah informasi, mencari berbagai sudut pandang, serta berani membentuk opini sendiri.
Media sosial dan AI seharusnya menjadi sarana untuk bertumbuh, bukan alat yang secara perlahan mengendalikan cara berpikir.
Pada akhirnya, AI hanyalah sebuah alat. Algoritma tidak memiliki nilai, sikap, maupun tujuan hidup. Semua itu tetap berada di tangan manusia. Gen Z memegang peran penting dalam menentukan arah masa depan digital.
Apakah kita akan menjadi generasi yang pasif dan mudah diarahkan, atau generasi yang cerdas, kritis, dan tetap berpikir mandiri di tengah kemajuan teknologi? Jawabannya bergantung pada bagaimana kita menggunakan AI hari ini. (**/)


Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih