![]() |
| Gambar ilustrasi by google gemini |
Keterbatasan dana desa bukan lagi alasan untuk berjalan di tempat. Di tengah meningkatnya kebutuhan pembangunan, walinagari dituntut semakin kreatif dan inovatif dalam mencari sumber pembiayaan alternatif.
Dana transfer dari pemerintah memang penting, namun ketergantungan semata pada anggaran tersebut justru membuat gerak pembangunan menjadi sempit.
Di banyak desa di Indonesia, dana desa kerap habis untuk belanja rutin dan pembangunan fisik dasar. Sementara kebutuhan ekonomi produktif masyarakat sering kali belum tersentuh optimal.
Akibatnya, perputaran ekonomi lokal berjalan lambat dan pendapatan nagari stagnan.
Karena itu, walinagari tidak cukup berperan sebagai administrator anggaran. Ia harus tampil sebagai motor penggerak ekonomi.
Kepemimpinan yang visioner sangat dibutuhkan agar setiap rupiah yang dibelanjakan mampu memberi efek berganda bagi kesejahteraan masyarakat.
Perencanaan berbasis kebutuhan riil menjadi langkah awal. Program yang disusun melalui musyawarah nagari akan lebih tepat sasaran karena lahir dari aspirasi warga sendiri.
Skala prioritas pun bisa ditentukan secara objektif, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Di luar dana desa, nagari sebenarnya memiliki peluang besar menggali pendapatan asli nagari dari berbagai sumber sah.
Pengelolaan aset, pasar nagari, tanah kas, hingga kerja sama usaha bisa menjadi pemasukan berkelanjutan jika dikelola profesional.
Salah satu instrumen ekonomi yang kini mulai dilirik adalah koperasi desa. Melalui wadah usaha bersama, masyarakat dapat menghimpun modal, mengelola produksi, hingga memasarkan hasil secara kolektif. Sistem ini memperkuat posisi tawar petani, nelayan, dan pelaku UMKM.
Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi peluang baru bagi nagari untuk memperluas sumber pendapatan.
Konsepnya menekankan gotong royong ekonomi, di mana desa tidak hanya menjadi konsumen program, tetapi pelaku usaha yang mandiri.
KDMP dapat mengelola berbagai unit bisnis, seperti simpan pinjam, perdagangan hasil pertanian, pengadaan pupuk, sembako, hingga pengolahan produk lokal.
Dari setiap aktivitas usaha tersebut, koperasi memperoleh sisa hasil usaha (SHU) yang dapat dibagikan kepada anggota sekaligus memperkuat kas lembaga.
Secara tidak langsung, keberadaan KDMP membantu menambah pendapatan nagari. Ketika ekonomi warga tumbuh, daya beli meningkat, usaha berkembang, dan perputaran uang terjadi di dalam desa.
Dampaknya, penerimaan dari retribusi, sewa aset, dan kontribusi usaha nagari ikut meningkat.
Bahkan, jika pemerintah nagari menjadi bagian atau bermitra dengan koperasi, sebagian keuntungan dapat dialokasikan untuk mendukung program sosial dan pembangunan.
Model ini menciptakan kemandirian fiskal tanpa harus selalu menunggu bantuan dari atas.
Selain aspek ekonomi, KDMP juga mendorong pemberdayaan masyarakat. Pemuda, kelompok perempuan, dan pelaku UMKM mendapat ruang untuk berwirausaha.
Pelatihan manajemen, keuangan, dan pemasaran membuat masyarakat lebih siap bersaing di pasar.
Bagi walinagari, koperasi bisa menjadi mitra strategis. Pemerintah nagari fokus pada regulasi dan fasilitasi, sementara koperasi bergerak di sektor bisnis.
Pembagian peran ini membuat pembangunan berjalan seimbang antara pelayanan publik dan penguatan ekonomi.
Tentu pengelolaan koperasi harus profesional, transparan, dan akuntabel. Tanpa manajemen yang baik, koperasi hanya akan menjadi papan nama.
Karena itu, SDM pengelola perlu dilatih agar mampu menjalankan usaha secara modern dan terpercaya.
Jika dikelola serius, sinergi antara dana desa, pendapatan asli nagari, BUMNag, dan KDMP akan menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang kuat.
Nagari tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bantuan pemerintah, tetapi memiliki sumber pemasukan mandiri.
Jadi, keterbatasan dana desa justru menjadi pemicu inovasi. Walinagari yang mampu memanfaatkan koperasi seperti KDMP sebagai penggerak ekonomi akan membawa nagarinya lebih tangguh, mandiri, dan sejahtera.
Dari nagari yang berdaya, pembangunan daerah pun akan tumbuh lebih berkelanjutan. (***/Darwisman)


Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih