Oleh : Algivary Fadli, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
![]() |
| Gambar ilustrasi by google gemini |
FENOMENA healing kini semakin akrab di linimasa media sosial. Anak muda membagikan momen liburan singkat, duduk santai di kafe, berjalan sore menikmati senja, atau sekadar membaca buku di kamar.
Sekilas terlihat sederhana, bahkan ada yang menganggapnya sekadar ikut tren. Namun di balik itu, tersimpan satu hal yang lebih mendasar: kebutuhan untuk memulihkan diri.
Tekanan hidup modern yang serba cepat, tuntutan pekerjaan, persoalan ekonomi, hingga derasnya arus perbandingan di media sosial membuat banyak anak muda merasa lelah secara mental. Dari situlah healing hadir sebagai cara untuk bernapas sejenak.
Apa Itu Healing?
Healing bukan soal pergi ke tempat wisata mahal atau berlibur jauh ke luar kota.
Lebih dari itu, healing adalah proses memulihkan pikiran dan emosi melalui aktivitas sederhana yang membuat diri merasa tenang dan kembali “utuh”.
Bentuknya bisa sangat personal : beristirahat tanpa gangguan, menulis jurnal, berolahraga ringan, menghabiskan waktu bersama orang terdekat, atau bahkan mematikan ponsel selama beberapa jam.
Intinya bukan kemewahan, melainkan ketenangan.
Mengapa Healing Jadi Tren?
Ada beberapa alasan mengapa istilah ini semakin populer di kalangan generasi muda.
Pertama, tingkat stres yang meningkat. Tekanan ekonomi, persaingan kerja, dan ekspektasi sosial membuat banyak orang mudah mengalami burnout.
Kedua, kesadaran akan kesehatan mental makin tinggi. Pasca pandemi, topik mental health tidak lagi tabu. Anak muda mulai berani mengakui bahwa menjaga kondisi psikologis sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Ketiga, healing tidak harus mahal. Duduk di taman, membaca buku, atau menonton film favorit pun sudah cukup memberi efek relaksasi.
Keempat, media sosial turut mendorong tren ini. Banyak kreator konten membagikan momen self-care, sehingga healing terasa dekat dan mudah ditiru.
Cara Healing yang Mudah dan Murah
Tak perlu biaya besar untuk menenangkan diri. Beberapa langkah sederhana justru sering lebih efektif, seperti berjalan sore sambil mendengarkan musik, minum teh atau kopi di tempat favorit, membersihkan kamar, menulis jurnal emosi, hingga membatasi penggunaan media sosial selama beberapa jam.
Aktivitas-aktivitas kecil ini terbukti membantu mengurangi stres dan mengembalikan fokus.
Lebih dari Sekadar Tren
Manfaat healing pun nyata. Anak muda yang rutin memberi waktu untuk diri sendiri cenderung lebih fokus, produktif, tidak mudah emosional, serta lebih mengenal batas kemampuan diri.
Karena itu, healing sejatinya bukan pelarian dari masalah. Justru sebaliknya, ia adalah cara mengisi ulang energi agar lebih siap menghadapi tantangan.
Di tengah hidup yang serba cepat dan penuh tekanan, berhenti sejenak bukanlah kelemahan. Itu adalah bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri.
Sebab pada akhirnya, hidup yang tenang dan seimbang sering kali menjadi definisi kesuksesan yang paling sederhana—namun paling bermakna. (***/)


Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih