Diskusi Basuo Talang Sepakat : Pemuda Didorong Jadi Motor Perubahan Desa

0

 


TALANG SEPAKAT,-  Peran strategis pemuda dalam mendorong kemajuan desa menjadi sorotan utama dalam kegiatan Diskusi Basuo (Bahas Isu Basamo) yang digelar di Kantor Desa Talang Sepakat, Sabtu lalu.


Kegiatan ini diinisiasi oleh Himpunan Pemuda Tiga Talang (HPTT) bersama berbagai elemen kepemudaan, seperti Karang Taruna, Risma Tiga Talang, Pemuda Peduli Tiga Talang, Komunitas Pencinta Alam Rafflesia Utara Bengkulu, Kopdar Mukomuko, IKS PI Kera Sakti Ranting 3 Talang, hingga Komunitas Lingkungan Hijau Daun.


Diskusi tersebut turut dihadiri Ketua Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) V Koto, Sekretaris Desa Talang Sepakat, perangkat desa, serta Badan Permusyawaratan Desa (BPD).


Tak sekadar forum diskusi biasa, kegiatan ini menjadi ruang temu antara pemuda dan masyarakat untuk membedah berbagai persoalan desa sekaligus merumuskan langkah konkret yang berkelanjutan.


Ketua pelaksana sekaligus moderator, Diko Okta Siswandra, menyoroti minimnya perhatian terhadap desa, termasuk tidak adanya mahasiswa KKN yang masuk ke wilayah tersebut. 


Ia menilai kondisi ini turut berdampak pada terbatasnya inovasi dan pengembangan di tingkat desa.


Diskusi berlangsung dinamis dengan menghadirkan sejumlah pemantik, yakni Dr. Ahmat Setiabudi, S.Psi., M.Si., Gies Andika, S.Psi., dan Aan Saputra, S.Tp. Ketiganya menekankan pentingnya peran aktif pemuda dalam pembangunan.


Ahmat Setiabudi menegaskan bahwa pemuda tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh semangat dan daya juang. 


Menurutnya, pemuda adalah agen perubahan sekaligus kekuatan moral di tengah masyarakat.


“Pemuda bukan soal usia, tetapi soal semangat. Tanpa semangat, seseorang bisa menjadi tua sebelum waktunya,” ujarnya.


Ia juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini justru datang dari rasa nyaman yang berlebihan, sehingga melemahkan semangat berkontribusi. 


Karena itu, ia mendorong lahirnya ruang-ruang aktualisasi bagi pemuda sesuai minat dan potensi masing-masing.


Senada, Gies Andika menekankan bahwa sejarah telah membuktikan perubahan besar selalu melibatkan peran pemuda. 


Ia menyebut desa tidak akan berkembang tanpa kreativitas dan keterlibatan aktif generasi muda.


“Kesadaran harus diikuti dengan aksi nyata,” tegasnya.


Sementara itu, Aan Saputra mengingatkan pentingnya kesiapan individu sebelum terjun ke masyarakat. 


Ia menilai perubahan harus dimulai dari diri sendiri, kemudian meluas ke lingkungan sekitar.


Dalam sesi diskusi, berbagai persoalan desa mengemuka. Mulai dari kebiasaan membuang sampah sembarangan, kondisi lingkungan yang kurang sehat, hingga maraknya perilaku sosial negatif di kalangan pemuda. 


Minimnya kegiatan serta lemahnya organisasi kepemudaan juga menjadi perhatian serius.


Sejumlah peserta juga menyoroti kurangnya dukungan dari pemerintah desa yang dinilai berpengaruh terhadap rendahnya motivasi pemuda. 


Di sisi lain, pemuda juga diharapkan mampu lebih proaktif dalam mengoptimalkan potensi yang dimiliki.


Menanggapi hal tersebut, para pemantik sepakat bahwa penguatan peran pemuda harus dilakukan melalui kolaborasi yang lebih erat dengan pemerintah desa. 


Selain itu, kemandirian ekonomi dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan gerakan pemuda.


Dari diskusi ini, lahir sejumlah rekomendasi strategis, di antaranya restrukturisasi organisasi kepemudaan, penguatan kegiatan sosial dan keagamaan, pembentukan kelompok usaha pemuda, serta penyelenggaraan forum diskusi rutin. 


Peserta juga mendorong adanya alokasi dana desa untuk mendukung program kepemudaan.


Melalui forum ini, pemuda diharapkan tidak lagi sekadar menjadi objek pembangunan, tetapi tampil sebagai subjek utama yang mampu menggerakkan perubahan nyata di desa secara berkelanjutan. (***/)

Posting Komentar

0Komentar

Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top