![]() |
JAKARTA- Pertengahan tahun 2026 tampaknya akan menjadi salah satu titik temu yang menarik dalam lanskap literasi.
Di tengah arus cepat dunia digital dan perubahan sosial yang terus bergerak, dua penulis dengan jalur yang berbeda, Riri Satria dan Emi Suy, memilih untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu menghadirkan hasil perenungan itu dalam bentuk lima buku yang akan diluncurkan dalam waktu berdekatan.
Empat di antaranya datang dari Riri Satria, seorang penulis yang selama ini dikenal melintasi berbagai bidang, dari teknologi digital hingga filsafat. Satu lainnya adalah suara puitik Emi Suy, yang selama beberapa tahun terakhir konsisten menulis dari ruang yang lebih personal dan intim.
Bagi Riri, keempat buku itu bukan sekadar proyek penerbitan, melainkan semacam peta perjalanan. Ada "Bom Waktu", yang memuat kegelisahan dalam bentuk puisi. Ada "Gelombang Algoritma", yang merekam denyut dunia teknologi yang terus berubah.
Ada pula "Kata, Rupa, dan Warna", yang menempatkan kebudayaan dalam bingkai refleksi, serta "Membingkai Kata-Kata", yang membuka proses kreatif penulisan esai itu sendiri.
Namun yang menarik, semua itu justru lahir dari keputusan untuk melambat.
Setelah menerbitkan "Login Haramain" pada 2025, Riri tidak langsung melanjutkan dengan karya baru.
Ia memilih kembali ke tulisan-tulisan lamanya yang tersebar sejak 2022 di berbagai platform digital dan membacanya ulang dengan jarak.
“Tulisan-tulisan itu seperti jejak diri saya di masa lalu. Ada yang masih relevan, ada yang mentah, ada juga yang justru mengejutkan saya sendiri,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (28/3/2026).
Dari proses membaca ulang itu, muncul bukan hanya penyusunan ulang teks, tetapi juga semacam dialog dengan diri sendiri antara yang dulu dan yang sekarang.
Buku-buku tersebut, dengan demikian, tidak hanya menjadi kumpulan tulisan, tetapi juga hasil dari proses seleksi, keraguan, dan pemaknaan ulang.
Di sisi lain Emi Suy datang dengan pendekatan yang berbeda, tetapi tidak kalah kuat.
Melalui buku "Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri", ia menghadirkan puisi-puisi yang lahir dari pengalaman personal selama rentang 2022 hingga 2025.
Puisi-puisi itu sebelumnya telah tersebar di berbagai media, dibaca, dirasakan, dan diam-diam menemukan pembacanya. Kini, mereka dikumpulkan dalam satu rumah yang utuh.
Tema yang diangkat pun tidak jauh dari pengalaman batin, luka, ketahanan, dan proses untuk pulih.
Dalam puisi-puisi Emi, bahasa tidak hanya bekerja sebagai estetika, tetapi juga sebagai cara bertahan.
Ada semacam keberanian untuk mengakui rapuh, sekaligus keinginan untuk menjahit kembali bagian-bagian diri yang pernah retak.
Dalam perspektif yang lebih luas, karya ini bisa dibaca melalui kerangka "writing as healing", gagasan bahwa menulis bukan hanya aktivitas kreatif, tetapi juga proses penyembuhan.
Di titik ini, puisi menjadi lebih dari sekadar teks; ia menjadi kesaksian.
Jika Riri bergerak dari refleksi intelektual terhadap dunia yang berubah cepat, Emi justru bergerak dari kedalaman pengalaman personal.
Keduanya seperti berjalan di jalur yang berbeda, tetapi menuju satu pertemuan: memahami manusia, baik dari luar maupun dari dalam.
Peluncuran lima buku ini nantinya tidak hanya akan menjadi seremoni. Sejumlah diskusi direncanakan untuk mengupas proses kreatif di balik karya-karya tersebut, tentang bagaimana sebuah ide muncul, disimpan, diragukan, lalu akhirnya menemukan bentuknya.
Di sanalah mungkin, peristiwa sebenarnya akan terjadi: ketika tulisan tidak lagi hanya dibaca, tetapi juga dipahami sebagai proses.
Ketika pembaca tidak hanya menerima hasil akhir, tetapi diajak melihat perjalanan di baliknya.
Pada akhirnya, peluncuran ini menghadirkan dua arus yang jarang bertemu dalam satu momentum: refleksi intelektual atas perubahan zaman dan kesaksian puitik atas pengalaman manusia.
Di antara keduanya, tersimpan satu hal yang sama yaitu keinginan untuk terus menulis, agar tidak kehilangan jejak diri di tengah dunia yang terus bergerak.(***)
Kontributor : Lasman Simanjuntak


Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih