![]() |
Oleh : Darwisman
Biduak lalu kiambang batauik. Pepatah Minangkabau ini mengajarkan bahwa perbedaan dan persaingan adalah hal yang biasa dalam kehidupan.
Namun setelah semuanya berlalu, hubungan persaudaraan harus kembali terjalin seperti semula. Nilai inilah yang sangat relevan untuk direnungkan menjelang Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) yang akan digelar pada 27 Juni mendatang.
Hari pencoblosan kini tinggal hitungan hari. Para calon wali nagari bersama tim pendukungnya semakin intensif bergerak di tengah masyarakat untuk mencari dukungan.
Dari warung kopi hingga pertemuan warga, dari rumah ke rumah hingga berbagai kegiatan sosial, para kandidat terus memperkenalkan diri sekaligus menawarkan program yang akan dijalankan jika dipercaya memimpin nagari.
Dalam suasana seperti ini, semangat kompetisi tentu tidak bisa dihindari. Setiap calon ingin memperoleh dukungan sebanyak mungkin dari masyarakat. Hal tersebut merupakan bagian yang sah dan wajar dalam sebuah proses demokrasi.
Namun, persaingan politik hendaknya tetap berada dalam koridor etika dan nilai-nilai adat yang selama ini menjadi pegangan masyarakat Minangkabau.
Jangan sampai keinginan untuk menang justru melahirkan perpecahan yang merusak hubungan kekeluargaan di tengah masyarakat.
Masyarakat nagari memiliki ikatan sosial yang kuat. Mereka adalah keluarga, tetangga, sahabat, dan sesama anggota kaum yang setiap hari berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu, perbedaan pilihan politik seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling bermusuhan.
Yang perlu dijual kepada masyarakat adalah program, gagasan, dan solusi. Calon wali nagari hendaknya menjelaskan apa yang akan dilakukan untuk memajukan nagari, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, memberdayakan pemuda, memperkuat ekonomi, serta mengembangkan potensi yang dimiliki nagari.
Jangan jadikan kampanye sebagai arena saling menjelekkan atau memburuk-burukkan lawan. Sebab ketika pesta demokrasi usai, semua pihak akan kembali hidup berdampingan dalam satu nagari yang sama.
Masyarakat saat ini semakin cerdas dalam menilai calon pemimpinnya. Mereka tidak hanya mendengar apa yang diucapkan, tetapi juga melihat rekam jejak, sikap, dan ketulusan seseorang dalam mengabdi kepada masyarakat.
Karena itu, menjaga komunikasi yang santun menjadi sangat penting. Hindari ucapan yang dapat menyinggung, memfitnah, atau memancing konflik. Kata-kata yang baik akan melahirkan suasana yang baik pula.
Tim sukses dan para pendukung juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga suasana tetap kondusif. Jangan sampai karena semangat mendukung calon tertentu, justru muncul narasi yang memecah belah masyarakat.
Selain itu, para calon hendaknya menghindari janji-janji muluk yang sulit diwujudkan. Sampaikan program secara realistis sesuai kewenangan dan kemampuan yang dimiliki. Kejujuran jauh lebih dihargai daripada janji yang terdengar indah tetapi tidak dapat direalisasikan.
Pilwana sejatinya bukan sekadar mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu, Pilwana adalah sarana demokrasi untuk memilih pemimpin terbaik yang akan membawa nagari menuju kemajuan.
Siapa pun yang nantinya memperoleh amanah dari masyarakat harus menjadi pemimpin bagi seluruh warga, bukan hanya bagi mereka yang memilihnya. Begitu pula yang belum terpilih, tetap memiliki ruang untuk berkontribusi dalam pembangunan nagari.
Menjelang hari pemungutan suara, marilah seluruh pihak menahan diri dari sikap dan ucapan yang dapat memperkeruh suasana. Perlihatkan kedewasaan dalam berdemokrasi dan tunjukkan bahwa masyarakat nagari mampu menjaga marwah adat serta persaudaraan.
Sebab pada akhirnya, sebagaimana pesan bijak para ninik mamak dahulu, "Biduak lalu kiambang batauik." Persaingan boleh terjadi hari ini, tetapi setelah semuanya berlalu, masyarakat harus kembali bersatu untuk membangun nagari yang lebih maju, aman, dan sejahtera. (**/)


Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih