Jiwa di Dalam Mesin: Mengapa AI Tak Akan Pernah Menggantikan Hati Seorang Guru

0

 


BUKITTINGGI — Ruang kelas masa depan bukan sedang kekurangan teknologi, melainkan sedang berjuang mempertahankan kemanusiaannya. 


Ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai memengaruhi lanskap pendidikan global, para pendidik dituntut tidak hanya untuk beradaptasi, tetapi juga menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam proses belajar mengajar.


Pesan tersebut mengemuka dalam International Minangkabau Literacy Festival (IMLF-4) yang berlangsung di Istana Bung Hatta, Bukittinggi. Para pemikir dari berbagai negara berkumpul untuk membahas tema “Peluang dan Tantangan Guru di Era AI.”


Dialog internasional yang dipandu oleh budayawan sekaligus akademisi UIN Bukittinggi, Dr. Irwandi, menghadirkan beragam perspektif dari lima negara. Diskusi ini menegaskan batas yang jelas antara apa yang dapat diproses oleh mesin dan apa yang hanya bisa diajarkan oleh manusia.


Pembahasan diawali dari aspek fundamental. Jurnalis dan penulis asal Perth, Australia, Mai White, menegaskan bahwa integrasi AI dalam pendidikan merupakan sebuah keniscayaan. Namun, menurutnya, AI tetaplah sekadar alat.


White mengingatkan bahwa tanpa kebijakan pemerintah yang menjamin akses teknologi yang merata, kehadiran AI justru berpotensi memperlebar kesenjangan sosial di masyarakat.


Dari persoalan infrastruktur, diskusi kemudian bergerak menuju aspek literasi yang lebih mendalam. Prof. Lisa Kuitert dari Universitas Amsterdam memberikan pengingat penting bagi Generasi Z. 


Menurutnya, meskipun hidup di era digital, generasi muda tetap harus didorong untuk mengunjungi perpustakaan, membaca buku, dan menulis secara konvensional.


Kuitert menegaskan bahwa kedalaman intelektual lahir dari proses membaca yang perlahan dan reflektif, sesuatu yang kerap terkikis oleh budaya serba instan yang ditawarkan layar digital.


Keterbatasan algoritma juga dibahas melalui perspektif bahasa dan ekspresi manusia. 


Penulis dan penerjemah asal Swiss, Lucilla Trapazono, menilai bahwa AI bekerja secara mekanis dalam menerjemahkan kata demi kata. 


Teknologi tersebut tidak mampu memahami kedalaman emosi manusia, kehalusan metafora, maupun nuansa budaya yang menjadi ruh sebuah bahasa.


Senada dengan itu, Dr. Ganjar Harimansyah dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia menegaskan bahwa meskipun AI mampu mengolah data dalam jumlah besar, kemampuan berkomunikasi secara empatik dan persuasif tetap menjadi keunggulan manusia yang tidak tergantikan.


Puncak refleksi filosofis dalam forum ini disampaikan oleh Prof. Silfia Hanani, Rektor UIN Bukittinggi. 


Ia menyoroti kecemasan yang kini dirasakan banyak pendidik di berbagai belahan dunia terkait kemungkinan tergesernya peran guru oleh teknologi.


Dalam pernyataannya yang tegas, Hanani menolak anggapan bahwa guru akan menjadi usang akibat kehadiran AI.


"Guru tidak boleh merasa tersisih dengan hadirnya AI. Mesin itu tidak memiliki perasaan dan tidak akan pernah mampu membentuk akhlak peserta didik," tegas Hanani.


Menurutnya, kekuatan utama seorang guru terletak pada perannya sebagai pembimbing moral dan pembentuk karakter. Wilayah ini merupakan ranah yang tidak akan pernah bisa dimasuki oleh algoritma secanggih apa pun.


Menjelang penutupan, IMLF-4 menghadirkan sebuah peta jalan penting bagi dunia pendidikan di era digital. Masa depan pendidikan, menurut forum ini, harus dibangun di atas lima pilar utama, yakni kebijakan pemerintah, kompetensi guru, keadilan sosial, pelestarian budaya, dan ketahanan psikologis.


Pesan yang disampaikan dari Bukittinggi kepada dunia sangat jelas: di tengah puncak kemajuan teknologi, jiwa sejati pendidikan tetaplah sentuhan manusia. (***/)

Posting Komentar

0Komentar

Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top