Oleh: Kartina
![]() |
Dulu, sejarah mencatat nama Bung Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, hingga Haji Agus Salim sebagai singa podium yang argumennya ditakuti kaum kolonial. Mereka bukan sekadar politisi, melainkan arsitek peradaban.
Hari ini, coba tengok realitas di sekitar kita. Pemuda Minang lebih dikenal sebagai kreator konten, pedagang kaki lima yang bertahan hidup, atau anak muda yang nongkrong berjam-jam di kafe sambil menatap layar ponsel.
Sungguh sebuah ironi yang menghentak kesadaran. Ada sesuatu yang putus dalam rantai pasokan intelektual kita. Kita terlalu sibuk membanggakan kejayaan masa lalu hingga lupa bahwa fondasi pengetahuan, falsafah, dan sistem pendidikan orisinal Minangkabau sedang mengalami keretakan yang parah di era modern.
Krisis Epistemologi: Saat "Alam Takambang Jadi Guru" Digantikan Algoritma
Inti dari runtuhnya daya kritis manusia Minang modern bermula dari kesalahan kita dalam mengartikan jimat terbesar warisan leluhur: alam takambang jadi guru. Falsafah ini bukan sekadar kalimat puitis untuk dipajang di dinding kantor pemerintahan.
Ini merupakan metodologi ilmiah yang radikal. Leluhur Minang memaksa anak cucunya untuk membaca realitas, mengamati ekosistem, dan melakukan riset empiris langsung dari semesta.
Ketika melihat bambu merumpun, mereka melahirkan teori sosiologi tentang solidaritas. Ketika melihat air mengikis batu, mereka memahami konsep konsistensi dan determinasi. Alam menjadi laboratorium hidup yang menyediakan pelajaran tanpa batas.
Kini, laboratorium itu telah digusur oleh algoritma media sosial. Anak muda Minang tidak lagi membaca tanda-tanda alam atau peka terhadap perubahan sosial di nagari mereka.
Mereka membaca apa yang disodorkan oleh For You Page (FYP) TikTok dan Reels Instagram. Kita telah menukar universitas semesta yang tak berbatas dengan kotak kaca lima inci yang mendikte cara berpikir, berpakaian, hingga menentukan apa yang dianggap keren dan apa yang dipandang kuno.
Matinya "Raso jo Pareso" di Ruang Publik
Tragedi berikutnya adalah hilangnya filter budaya yang paling esensial: raso jo pareso (rasa dan periksa). Ini bukan sekadar urusan sopan santun, melainkan konsep tinggi tentang kecerdasan emosional dan etika publik.
Raso berada di hati sebagai empati, sedangkan pareso berada di kepala sebagai rasionalitas. Sebelum suatu tindakan dilempar ke ruang publik, ia harus lolos dari sensor ketat kedua instrumen tersebut.
Coba lihat bagaimana perdebatan politik, konflik agraria, hingga komentar-komentar di grup WhatsApp keluarga masyarakat Minang hari ini. Caci maki, penyebaran hoaks, dan watak sirik-bangki begitu mudah meletup. Kita menjadi masyarakat yang sumbunya pendek.
Mengapa hal itu terjadi? Karena pareso atau logika kita mulai tumpul, sementara raso atau empati perlahan mati. Ketika suatu bangsa kehilangan kemampuan menimbang rasa, mereka akan lebih mudah diadu domba, dimanipulasi oleh kepentingan politik praktis, dan kehilangan taji sebagai masyarakat komunal yang solid.
Runtuhnya Dua Pilar: Surau yang Sepi dan Merantau yang Kehilangan Nyawa
Dulu, Minangkabau memiliki sistem pendidikan double track yang luar biasa cerdas: surau dan merantau. Dua institusi ini merupakan pabrik pencetak manusia tangguh bermental baja.
Surau bukan sekadar tempat sujud. Surau adalah kawah candradimuka tempat anak laki-laki ditempa secara spiritual melalui mengaji, secara fisik melalui silek, dan secara intelektual melalui diplomasi dalam pidato adat pasambahan.
Di surau, ego anak muda dihancurkan karena mereka harus tidur bersama di lantai kayu tanpa kasur empuk. Dari sanalah lahir manusia-manusia tangguh yang tidak manja.
Hari ini, fungsi surau telah tergerus oleh lembaga pendidikan formal dan bimbingan belajar yang lebih banyak mengejar angka-angka di atas kertas ijazah. Anak-anak dipaksa unggul secara akademis, tetapi sering kali gagap dalam pembentukan karakter.
Setelah surau melemah, efek dominonya langsung menghantam tradisi merantau. Merantau kini kerap mengalami degradasi makna. Banyak yang pergi ke kota besar hanya untuk menjadi buruh urban, terjebak dalam lingkaran konsumerisme, atau sekadar melarikan diri dari kemiskinan di kampung halaman.
Padahal, hakikat merantau dalam falsafah Minang adalah ekspedisi intelektual dan kultural. Merantau merupakan ujian kehidupan nyata untuk menguji sejauh mana prinsip alua jo patuik dapat diterapkan di tanah orang.
Tanpa bekal mental dari surau, merantau hanya akan melahirkan individu yang gagap budaya, mudah tertekan di kota besar, atau bahkan melupakan akar budayanya sendiri demi terlihat lebih modern.
Gugatan untuk Masa Depan Ranah Minang
Kita harus berani jujur kepada diri sendiri. Romantisme sejarah bahwa orang Minang itu pintar, religius, dan pandai berdagang tidak akan menyelamatkan kita dari arus globalisasi yang semakin brutal.
Menjual nama besar Bung Hatta atau Buya Hamka dalam setiap pidato kebudayaan tidak akan membuat generasi muda kita otomatis menjadi cerdas.
Jika Sumatera Barat ingin kembali mengguncang panggung nasional dan dunia dengan pemikiran-pemikiran besarnya, kita harus melakukan rekonstruksi total terhadap cara mendidik generasi muda.
Kembalikan fungsi alam sebagai guru, hidupkan kembali esensi raso jo pareso dalam ruang diskusi, serta format ulang peran surau dan merantau agar tetap relevan dengan tantangan zaman.
Pilihan kita hari ini hanya dua: terus terbuai dalam dongeng kejayaan masa lalu sambil perlahan tenggelam menjadi penonton di tanah sendiri, atau berani bangkit membongkar kemalasan berpikir demi menjemput kembali takdir Minangkabau sebagai rahim para pemikir bangsa. (***/)


Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih