Langkah Suruik dan Galombang Randai: Kearifan Minangkabau untuk Menjaga Kesehatan Mental

0

Oleh : Arif Rahman Hakim, Mahasiswa Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas


Penulis


Belakangan ini, lini masa media sosial dipenuhi oleh narasi tentang kesehatan mental. Istilah-istilah psikologi seperti anxiety, burnout, overthinking, hingga quarter-life crisis telah menjelma menjadi kosakata harian bagi generasi Z dan milenial. 


Demi melepaskan penat dan kecemasan akibat tekanan hidup modern yang serba cepat, banyak anak muda rela merogoh kocek dalam-dalam. Mereka mengikuti kelas yoga eksklusif, memesan sesi meditasi, hingga mengunduh aplikasi self-healing berbayar. 


Fenomena pencarian ketenangan ini diperkuat oleh data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (INAMHS) yang mencatat bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.


Namun, di tengah perburuan instan akan kedamaian batin tersebut, ada sebuah ironi yang sering luput dari perhatian. Kita kerap mencari kesembuhan jauh ke luar, melirik metode-metode Barat atau modern, padahal ruang terapi terbaik terkadang telah tersedia di pekarangan rumah sendiri. 


Jauh sebelum konsep mindfulness dan somatic therapy (terapi psikologis berbasis gerak tubuh) populer di dunia modern, masyarakat Minangkabau telah mewariskan sebuah instrumen “terapi mental” yang luar biasa. Sebuah kesenian komunal yang memadukan gerak, irama, sastra lisan, dan filsafat hidup. Instrumen itu bernama Randai.


Selama ini, Randai sering dipandang sekadar sebagai tontonan tradisional pengisi acara adat atau festival budaya. Padahal, Randai bukan hanya artefak masa lalu. Ia merupakan metode mindful movement lokal yang sangat relevan untuk menjaga kesehatan mental dan keseimbangan jiwa manusia modern.


Salah satu elemen yang paling menarik dalam pertunjukan Randai adalah gerakan galombang. Pada awal maupun di sela-sela babak cerita, para pemain bergerak naik-turun, maju-mundur, dan berputar secara ritmis. 


Dalam dunia psikologi, terdapat teknik yang dikenal sebagai grounding technique, yaitu metode untuk mengembalikan kesadaran seseorang yang sedang dilanda kecemasan agar kembali terhubung dengan tubuh dan lingkungan sekitarnya.


Gerakan galombang bekerja dengan filosofi yang hampir serupa. Saat seorang pemain melangkah dalam formasi galombang, seluruh indra dituntut untuk aktif dan selaras. 


Ia harus mengatur ritme napas, menjaga keseimbangan tubuh saat memasang kuda-kuda, sekaligus tetap waspada terhadap gerakan pemain lain di sekelilingnya. 


Dinamika naik-turun dan maju-mundur ini menjadi metafora visual dari fluktuasi kehidupan. Melalui kedisiplinan gerak galombang, tubuh dan pikiran dilatih untuk tetap tenang, stabil, dan seimbang meskipun berada dalam situasi yang dinamis.


Di sisi lain, dunia modern yang diperkuat oleh algoritma media sosial sering kali memaksa seseorang untuk selalu tampil sebagai pemenang. 


Kita didorong untuk terus melaju, mengejar kesuksesan di usia muda, serta memamerkan pencapaian demi mendapatkan validasi digital. Pola hidup yang sangat kompetitif ini tidak jarang memicu stres kronis, kecemasan, bahkan depresi.


Di sinilah konsep Langkah Suruik dalam tradisi silat Minangkabau yang diadopsi ke dalam Randai menemukan relevansinya. Dalam filosofi Randai, melangkah mundur bukanlah simbol kekalahan, ketakutan, atau kepasrahan. 


Langkah suruik adalah bentuk pengendalian diri dan regulasi emosi yang matang. Mundur berarti mengambil jarak untuk membaca keadaan dengan lebih jernih, meredam amarah, serta menjaga harmoni agar tidak terjadi benturan yang merugikan semua pihak.


Filosofi ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan yang melelahkan, ada kalanya seseorang perlu menekan rem, mengurangi ekspektasi, dan merendahkan ego demi menjaga kesehatan mentalnya sendiri. 


Tidak semua persoalan harus dihadapi dengan percepatan. Terkadang, kebijaksanaan justru hadir melalui kemampuan untuk berhenti sejenak dan mengambil langkah mundur.


Selain tekanan kompetisi, salah satu penyebab rapuhnya kesehatan mental generasi muda saat ini adalah rasa kesepian. Meski terhubung dengan ribuan orang melalui media sosial, banyak anak muda merasa tidak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut akan penilaian dan penghakiman.


Randai menawarkan jawaban atas persoalan tersebut melalui formasi lingkarannya. Dalam lingkaran Randai, seluruh pemain berada dalam posisi yang setara. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. 


Semua saling berhadapan, saling melihat, dan tidak ada yang membelakangi satu sama lain. Ketika mereka menghentakkan tangan ke celana galembong hingga menghasilkan bunyi bakepak, suara itu harus lahir secara serempak.


Keselarasan gerak dan bunyi yang dilakukan bersama-sama menumbuhkan rasa memiliki yang kuat. Lingkaran Randai menjadi bentuk nyata dari support system psikologis. 


Di dalamnya, seseorang memahami bahwa ia tidak sedang menanggung beban hidup sendirian. Ia adalah bagian dari harmoni kolektif yang mengamalkan falsafah adat Minangkabau: saciok bak ayam, sadanciang bak basi.


Sayangnya, realitas hari ini menunjukkan kontras yang tajam. Ketika banyak anak muda rela mengeluarkan biaya besar demi mencari ketenangan batin, sanggar-sanggar Randai di berbagai daerah di Sumatera Barat justru mulai sepi peminat. 


Ada jarak yang semakin lebar antara generasi muda dengan warisan budaya mereka sendiri. Randai sering dianggap kuno dan tidak relevan dengan perkembangan zaman.


Padahal, nilai-nilai yang dicari generasi modern saat ini—ketenangan jiwa, kemampuan mengelola emosi, dan komunitas yang suportif—sesungguhnya telah lama hidup dalam tradisi Randai. Semua itu tersedia secara alami melalui gerak, kebersamaan, dan nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur.


Karena itu, mencintai dan melestarikan tradisi tidak harus selalu didasarkan pada slogan nasionalisme yang besar. Bagi generasi muda, kembali ke sanggar, mempelajari Randai, dan terlibat dalam lingkarannya dapat menjadi pilihan yang personal sekaligus terapeutik untuk menghadapi hiruk-pikuk kehidupan modern.


Sudah saatnya kita menyadari bahwa untuk menyembuhkan luka, kecemasan, dan kepenatan jiwa, kita tidak selalu harus melangkah jauh ke depan atau mengadopsi budaya luar. 


Kadang-kadang, jalan menuju keseimbangan justru hadir melalui langkah suruik. Kita hanya perlu masuk ke dalam lingkaran Randai, mendengarkan dendang kaba, mengikuti gerak galombang, dan menemukan kembali ketenangan yang telah lama diwariskan oleh leluhur Minangkabau. (**/)


Tags

Posting Komentar

0Komentar

Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top