![]() |
Padang Pariaman --- Sektor ekonomi kreatif (ekraf) di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), bersiap melompat. Pemerintah daerah (pemda) menggandeng Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) serta akademisi meluncurkan program Aktivasi Desa Kreatif melalui Pengembangan Ruang Kreatif untuk menggarap potensi di ratusan nagari.
Program ini dibuka langsung oleh Anggota DPRD Kabupaten Padang Pariaman, Syahrul Usman. Ia menegaskan pentingnya wadah inovasi bagi pelaku usaha lokal.
"Di Padang Pariaman, saat ini terdapat 103 nagari yang memiliki potensi luar biasa, mulai dari sektor kuliner, seni budaya, fesyen, hingga bidang lainnya," kata Syahrul, seperti dikutip dari keterangannya, Selasa (3/11/2026).
Syahrul tak memungkiri permodalan dan kemampuan SDM masih menjadi ganjalan utama UMKM nagari. Karena itu, ia mendorong pelaku usaha tidak monoton, berani berinovasi, dan memanfaatkan platform digital.
Ia juga menyentil pemerintah pusat agar tidak hanya menggelar pelatihan, tetapi turut memberikan suntikan modal kerja.
"Selain program pelatihan peningkatan kapasitas, pemerintah pusat diharapkan turut mengalirkan bantuan modal usaha yang memadai. Dengan begitu, ilmu pelatihan bisa langsung diaplikasikan," tegasnya.
Dukungan senada disampaikan Kabid Ekraf Disparpora Padang Pariaman, Dendi Herta. Ia meminta para peserta mengikuti pembekalan dengan serius agar ilmu yang diperoleh langsung diterapkan dalam operasional bisnis harian.
Dari ranah akademisi, Dosen Manajemen Universitas Andalas (Unand) Padang, Perimita, membekali para pelaku usaha dengan materi standar pengolahan produk kuliner agar punya daya saing tinggi di pasar modern.
Sementara itu, Adyatama Parekraf Ahli Muda Kemenekraf, Kurnia Zaki, meluruskan pemahaman soal ruang kreatif. Menurutnya, fasilitas tersebut tak harus berwujud gedung megah.
"Konsep ruang kreatif tidak selalu harus berwujud bangunan fisik atau gedung permanen, melainkan bisa memanfaatkan ruang-ruang publik yang ada di tengah masyarakat," jelas Kurnia.
Ia menambahkan, ruang publik tersebut difungsikan sebagai tempat warga berkumpul, bertukar ide, dan melahirkan produk kreatif bernilai tambah. Kemenekraf pun membidik Nagari Katapiang sebagai *pilot project* pengembangan ekraf berbasis desa secara nasional. (**/)


Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih