Mudik (Pulang Sesaat) Tradisi Tahunan Yang Terjadi Jelang Idul Fitri

Mudik (Pulang Sesaat) Tradisi Tahunan Yang Terjadi Jelang Idul Fitri

Rabu, 29 Juni 2016, 14.20.00

Ilustrasi Mudik Lebaran (Sumber Fhoto Pikiran Rakyat Bandung )
Momen Idul Fitri merupakan momen yang sangat di tunggu-tunggu oleh sebagian besar umat Islam di muka bumi ini, tidak hanya karena kekuatan iman yang besar, pada Idul Fitri ini telah melahirkan sebuah ritual/rutinitas pulang kampung secara masal atau lebih kita kenal sebagai fenomena “Mudik Lebaran”.

Mudik berasal dari bahasa jawa “Mulih Dhisik” yang artinya pulang dulu. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. Beban yang paling berat yang dihadapi dalam mudik adalah penyediaan sistem transportasinya karena secara bersamaan jumlah masyarakat menggunakan angkutan umum atau kendaraan melalui jaringan jalan yang ada sehingga sering mengakibatkan penumpang/pemakai perjalanan menghadapi kemacetan, penundaan perjalanan.

Motivasi lain yang paling mengetahui adalah komunitas pemudik itu sendiri. Tapi, itu bisa diraba tentunya. Motivasi mudik bisa tergambar dalam upaya kembali ke tanah kelahiran setelah sekian lama ada di perantauan. Sub motivasinya; merayakan Idul Fitri di kampung halaman, menjalin tali silaturrahmi yang selama ini terputus karena kesibukan pekerjaan

Ada ungkapan hilir-mudik. Ada industri hilir, tapi tidak ada industri mudik. Kalau pun ada, mungkin industri hulu, yang menurut saya sinonim dengan industri udik. Hilir-Mudik menggambarkan sebuah kesinambungan aktifitas yang tidak terputus, kontinyu. Ada saat berada di hilir, ada saat berada di udik. Jika hilir diasumsikan sebagai pusat aktifitas, maka udik bisa juga diasumsikan sebagai tempat peristirahatan dari seluruh aktifitas. Ya, dan ini menemukan momentumnya pada saat Idul Fitri.

Saat dan selama mudik lebaran, kembali ke udik, adalah saat di mana aktifitas rutin pekerjaan diistirahatkan barang sejenak, untuk kemudian, pada saatnya, harus balik lagi lagi ke hilir pusat aktifitas dan pekerjaan. Dari sini kita mengenal; ada arus mudik lebaran dan arus balik. Menggunakan kata arus yang identik dengan aliran sungai (dari hulu ke hilir) lagi-lagi menandakan adanya aktifitas yang kontinyu. Bagi saya, penggunaan kata arus dalam konteks arus mudik dan arus balik tidak lain menggambarkan deras-nya prosesi mudik dan prosesi balik.

Bagaimana tidak, arus mudik hampir pasti diwarnai dengan berjubelnya penumpang Kereta Api, Pesawat Terbang, Kapal Laut, Bus hingga kemacetan lalau lintas di jalan raya karena berjejalnya mobil pribadi pemudik atau mobil yang disewa sebatas untuk mudik. Demikian juga halnya dengan arus balik yang hampir dapat dipastikan diikuti oleh pertambahan jumlah arus balik; yaitu calon perantau-perantau baru yang idealnya ingin mencari pekerjaan di kota-kota besar, seperti Bandung, Surabaya, Jakarta dan kota-kota lain di sekitarnya.

Tradisi mudik lebaran
Rangkaian seperti itulah yang telah membuat Mudik Idul Fitri sebagai sebuah kultur yang fenomenal dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dan kultur mudik, arus mudik dan arus balik, akan tetap menjadi fenomena di masa yang akan datang. Setidaknya, selagi Idul Fitri dirayakan oleh bangsa kita. Mengapa oleh bangsa kita? Ya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Idul Fitri tidak lagi dirayakan eksklusif oleh Umat Islam Indonesia. Non-muslim pun ikut “merayakan” Idul Fitri, setidaknya ada dalam wilayah merayakan secara kultural melalui fenomena mudik lebaran , arus mudik dan arus balik.

Pada ketiganya –mudik, arus mudik dan arus balik, saya yakini tidak sedikit selain umat Islam yang ada di dalamnya. Kalaupun tidak demikian, mereka –selain umat Islam –ada dalam kerangka “merayakan” Cuti atau Liburan Idul Fitri: sebuah sisi lain dari Idul Fitri sebagai bagian dari Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin.

sumber : cirebonmedia.com

TerPopuler