-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bangun Piaman.Com
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Plt Kamenag Sumbar Syamsuir Tegaskan Jangan Bicara Moderasi Beragama Kalau Tidak Paham

    Redaksi
    Kamis, 17 Juni 2021, 10.48.00 WIB Last Updated 2021-06-17T03:48:53Z
    Plt.Kepala Kantor Kamenag Sumbar Syamsuir Saat Membuka Kegiatan Penguatan Moderasi Beragama Kurikulum Madrasah dan Pondok Pesantren Tahun 2021


    PARIAMAN---Plt. Kepala Kanwil Kementerian Agama Sumatera Barat H.Syamsuir, membuka kegiatan Penguatan Moderasi Beragama Kurikulum Madrasah dan Pondok Pesantren Tahun 2021 di Provinsi Sumatera Barat untuk tingkatan MI dan Pondok Pesantren bersama salah seorang Tokoh Masyarakat Kota Pariaman di aula Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu Kantor Kementerian Agama Kota Pariaman, Rabu (16/6).


    Turut hadir Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Sumbar Syamsul Arifin beserta jajarana, Kepala Kemenag Kota Pariaman H. Miswan berseta jajaran dan narasumber Ketua Baznas Kabupaten Padang Pariaman Dr. Rahmat Tuanku  Sulaiman.  


    Plt. Kepala Kanwil Kementerian Agama Sumatera Barat  Syamsuir menegaskan perlunya menyatukan sikap dan pandangan terhadap penguatan moderasi beragama di madrasah dan pondok pesantren. Apalagi moderasi menjadi icon Kementerian Agama yang perlu diajarkan sejak dini kepada siswa dan santri.


    Ia mengatakan penguatan moderasi beragama ini penting diajarkan oleh para guru yang dimulai dari kepala madrasah dan pimpinan pesantren. “Kita jangan bicara moderasi beragama, kalau tidak paham. Karena itu, melalui penguatan moderasi beragama ini diharapkan para kepala madrasah dan pimpinan pesantren bisa memahami betapa pentingnya moderasi beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Syamsuir yang juga Kepala Kemenag Solok Selatan ini.


    Menurut Syamsuir, orang yang memahami moderasi beragama jangan sampai sinis kepada orang lain. Kemenag sendiri dengan moderasi beragama harus tampil sebagai penyejuk, pendamai dan penentraman umat. Kemenag bukan sebaliknya yang suka penyebar fitnah, sinis terhadap seseorang, dan sebagainya.


    “Saya saja sebagai Plt. Kepala Kanwil Kemenag Sumbar sudah sering difitnah dan diadu domba. Apalagi jika saya definitif, tentu akan lebih dari itu,” kata Syamsuir yang disambut ketawa hadirin.


    Syamsuir mengaku siap melayani 24 jam jika terkait tugasnya. Silakan berikan masukan yang positif dan membangun sehingga Kemenag di Sumatera Barat benar-benar dirasakan kesejukan dan kehadirannya di tengah umat. Sebaliknya, jangan berikan masukan yang negatif yang dapat merusak tatanan yang sudah baik di jajaran Kemenag Sumatera Barat.


    Kabid Pendidikan Madrasah Syamsul Arifin melaporkan peserta sebanyak 99 orang terdiri dari utusan 62 kepala MIN dan 37 pimpinan pondok pesantren yang tersebar di Sumatera Barat.


    Rahmat Tuanku Rahmat dalam paparan menyebutkan, moderasi beragama merupakan sebuah kebutuhan bagi negara Indonesia. Indonesia yang terdiri dari beragam agama, suku bangsa, bahasa dan tersebar di ribuan pulau sangat membutuhkan moderasi ini.


    “Kenyataan yang tak bisa dipungkiri, informasi yang diperoleh anak-anak dari media social (medsos) yang tidak sesuai dengan moderasi beragama. Informasi yang diperoleh di medsos ternyata berbeda dengan kenyataan yang ada di lingkungannya. Sehingga mereka menolak kenyataan yang sudah tumbuh dan berkembang bahwa Indonesia itu memang beragam. Sehingga dibutuhkan moderasi beragama,” tutur Rahmat yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Barat ini.


    Rahmat juga menyebutkan, bahwa agama Islam yang masuk ke Indonesia secara moderat. Pendekatan budaya yang sudah ada dengan memberikan warna nilai-nilai Islam. Sehingga Islam masuk tidak bersifat Arabisasi. Dengan pendekatan menghargai nilai-nilai budaya yang sudah ada. Sehingga melahirkan kearifan lokal yang mampu mengembangkan nilai-nilai kebutuhan kolektif, kebersamaan dan gotongroyong.


    “Keberagaman yang ada di Indonesia ini jika dikelola dengan baik akan menjadi potensi dalam membangun umat. Namun jika tidak pandai mengelolalnya, maka akan menimbulkan konflik dan perpecahan. Jika itu terjadi, tentu sangat mengancam eksistensi negara dan bangsa Indonesia,” tutur Rahmat mengakhiri. ( Harsy)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini