![]() |
| Gambar ilustrasi |
Pemekaran nagari atau desa bukan sekadar membagi wilayah di atas peta.
Lebih dari itu, kebijakan ini bertujuan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, mempercepat pembangunan, serta membuat tata kelola pemerintahan lebih efektif.
Salah satu tahap penting dalam proses tersebut adalah pembentukan nagari persiapan, yang dipimpin oleh Penjabat (Pj) Wali Nagari Persiapan.
Namun, di tengah pembentukannya, masih banyak pertanyaan muncul di masyarakat: dari mana gaji perangkatnya dibayar, layanan apa saja yang diberikan, dan apa sebenarnya tugas utama wali nagari persiapan setelah dilantik?
Gaji dari Anggaran Nagari, Bukan APBN Langsung
Secara umum, penghasilan wali nagari dan perangkat nagari persiapan bersumber dari APB Nagari. Dana tersebut berasal dari Alokasi Dana Desa (ADD) yang dialokasikan melalui APBD kabupaten/kota, bukan langsung dari APBN.
ADD inilah yang digunakan untuk membiayai operasional pemerintahan nagari, termasuk penghasilan tetap wali nagari, perangkat, serta kebutuhan administrasi lainnya.
Besarannya menyesuaikan kemampuan keuangan daerah, meski secara nasional sudah ada standar minimal penghasilan tetap kepala desa/perangkat desa.
Artinya, selama masa persiapan, pembiayaan pemerintahan tetap berjalan melalui dukungan anggaran daerah dan nagari induk.
Tetap Melayani Seperti Nagari Definitif
Meski berstatus “persiapan”, bukan berarti nagari ini belum bekerja. Justru sejak awal dibentuk, wali nagari persiapan sudah harus memberikan pelayanan dasar kepada masyarakat.
Pelayanan tersebut meliputi administrasi kependudukan tingkat nagari, surat menyurat, fasilitasi bantuan sosial, pendataan warga, hingga pengurusan kegiatan kemasyarakatan.
Selain itu, wali nagari juga mengoordinasikan pembangunan kecil seperti perbaikan jalan lingkungan, sarana ibadah, posyandu, hingga fasilitas umum lainnya.
Dengan kata lain, fungsi pemerintahan tetap berjalan, hanya saja masih dalam tahap penataan menuju nagari definitif.
Tugas Utama Setelah Dilantik
Setelah resmi dilantik, wali nagari persiapan memikul tanggung jawab besar sebagai “arsitek awal” pemerintahan baru. Ada beberapa tugas pokok yang harus segera dikerjakan.
Pertama, menata kelembagaan pemerintahan, mulai dari membentuk struktur perangkat nagari, membagi wilayah kerja, hingga menyusun administrasi dasar.
Kedua, menetapkan batas wilayah dan melakukan pendataan, baik jumlah penduduk, potensi ekonomi, aset tanah, maupun kondisi sosial budaya.
Ketiga, mengelola anggaran operasional secara transparan, termasuk menyusun rencana pembangunan jangka pendek.
Keempat, menyiapkan sarana prasarana dasar, seperti kantor wali nagari, fasilitas pelayanan publik, dan infrastruktur pendukung.
Tak kalah penting, wali nagari juga harus membangun komunikasi dengan tokoh masyarakat, adat, dan pemuda agar proses transisi berjalan kondusif. Stabilitas sosial menjadi kunci keberhasilan nagari persiapan.
Semua pekerjaan itu dilakukan dalam kurun waktu maksimal tiga tahun, sebelum statusnya dievaluasi untuk ditetapkan menjadi nagari definitif.
Fondasi Menuju Nagari Mandiri
Pada akhirnya, nagari persiapan bukan sekadar status administratif. Ia adalah fondasi lahirnya pemerintahan baru yang lebih dekat dengan rakyat.
Jika wali nagari persiapan mampu menata kelembagaan, pelayanan, dan pembangunan sejak awal, maka ketika menjadi nagari definitif, sistemnya sudah matang.
Seperti yang terlihat di Padang Pariaman dengan pelantikan belasan wali nagari persiapan, kehadiran pemerintahan baru ini diharapkan memangkas jarak pelayanan, mempercepat urusan warga, serta membuka peluang pembangunan yang lebih merata.
Karena itu, wali nagari persiapan sejatinya bukan hanya penjabat sementara, melainkan penentu arah masa depan nagari itu sendiri. (**/Redaksi)


Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih