![]() |
Fenomena mahasiswa mengirim tulisan ke media massa sebenarnya bukan hal baru. Banyak kampus mendorong mahasiswanya aktif menulis agar terbiasa menuangkan gagasan ke ruang publik.
Namun, ada hal lucu sekaligus memprihatinkan yang belakangan sering terjadi, yakni mahasiswa mengirim tulisan tanpa mengetahui nama media yang dituju.
Ironisnya, kejadian seperti ini justru ditemukan pada mahasiswa yang berasal dari jurusan yang berkaitan dengan sastra, bahasa, dan budaya.
Ada mahasiswa yang mengirim naskah dengan menyebut nama media yang salah. Bahkan, ada juga yang lupa mengganti nama media tujuan karena kemungkinan besar pesan tersebut hanya hasil salin-tempel dari kiriman sebelumnya.
![]() |
| Ini salah satu contoh pesan WhatsApp kepada redaksi, tulisannya ingin dimuat di jurnal bangunpiaman tapi ingin ditayangkan Jurnal Bengkulu, kan lucu. Ini akibat copas |
Hal sederhana seperti ini sebenarnya menunjukkan kurangnya ketelitian dan etika dalam berkomunikasi.
Padahal, ketika seseorang mengirim tulisan ke media massa, hal pertama yang harus dipahami adalah mengenali media yang dituju, mulai dari nama media, karakter pemberitaan, hingga gaya penulisannya.
Mahasiswa seharusnya memperkenalkan diri dengan baik sebelum mengirim karya. Minimal menyebutkan nama lengkap, asal kampus, jurusan, serta tujuan mengirim tulisan.
Cara seperti itu akan menunjukkan kesopanan sekaligus keseriusan penulis dalam membangun komunikasi dengan redaksi media.
Jika sejak awal nama media saja sudah salah disebut, tentu akan menimbulkan kesan bahwa tulisan dikirim secara asal-asalan.
Apalagi bagi redaksi media, kesalahan kecil seperti itu cukup mudah terlihat dan bisa memengaruhi penilaian terhadap profesionalitas penulis.
Di era digital saat ini, mengirim tulisan memang menjadi lebih mudah. Cukup melalui WhatsApp atau email, sebuah artikel sudah sampai ke meja redaksi.
Namun kemudahan itu jangan sampai membuat mahasiswa kehilangan etika dasar dalam berkomunikasi.
Sebagai kaum intelektual, mahasiswa seharusnya memiliki ketelitian lebih dibanding masyarakat umum.
Terlebih mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya yang setiap hari bersentuhan dengan bahasa, sastra, dan tata komunikasi. Kesalahan menyebut nama media justru menjadi ironi tersendiri.
Hal ini juga perlu menjadi perhatian dosen pembimbing maupun pihak kampus. Mahasiswa perlu diberi pemahaman bahwa menulis bukan hanya soal isi tulisan, tetapi juga tentang cara menghargai media yang menjadi tujuan publikasi.
Dosen pembimbing dapat mengajarkan etika sederhana sebelum mahasiswa mengirim tulisan.
Misalnya, memahami profil media, membaca contoh tulisan yang pernah dimuat, hingga memastikan pesan pengantar ditulis dengan sopan dan tepat.
Selain itu, mahasiswa juga perlu memahami bahwa setiap media memiliki karakter berbeda. Ada media yang fokus pada berita cepat, ada yang lebih mengutamakan opini, ada pula yang memiliki gaya bahasa tertentu.
Karena itu, mengenali media menjadi bagian penting sebelum mengirim karya tulis.
Kesalahan mengganti nama media tujuan mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya cukup memalukan.
Redaksi bisa saja menganggap penulis tidak serius atau hanya menyebar tulisan secara massal tanpa membaca terlebih dahulu kepada siapa tulisan itu dikirim.
Padahal, jika mahasiswa mampu membangun komunikasi yang baik dengan media, peluang tulisannya dimuat tentu lebih besar.
Redaksi pada dasarnya menghargai penulis yang sopan, teliti, dan memahami tata cara pengiriman naskah.
Kebiasaan asal kirim pesan juga mencerminkan budaya instan yang mulai berkembang di kalangan generasi muda. Semua ingin cepat, praktis, dan tanpa pengecekan ulang. Akibatnya, kesalahan sederhana justru menjadi bahan tertawaan.
Momentum seperti ini seharusnya menjadi pembelajaran bersama, terutama bagi mahasiswa yang sedang belajar menulis.
Ketelitian adalah bagian penting dalam dunia literasi. Sebagus apa pun isi tulisan, kesan pertama tetap menentukan.
Mahasiswa tentu memiliki potensi besar dalam dunia kepenulisan. Namun potensi itu perlu diimbangi dengan sikap profesional, etika komunikasi, dan rasa hormat kepada media.
Karena dalam dunia jurnalistik dan literasi, hal-hal kecil seperti menyebut nama media dengan benar justru menunjukkan kualitas seorang penulis. (redaksi)



Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih