![]() |
| Gambar ilustrasi by google gemini |
Tahapan krusial dalam Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) serentak di Kabupaten Padang Pariaman terus bergulir.
Sebanyak 74 nagari, pada hari ini, melaksanakan pengundian nomor urut calon wali nagari yang digelar di masing-masing kantor nagari.
Kegiatan tersebut berlangsung serentak dan dihadiri oleh panitia, unsur pemerintahan nagari, tokoh masyarakat, serta para calon wali nagari beserta pendukungnya.
Pengundian nomor urut ini menjadi salah satu tahapan penting sebelum memasuki masa kampanye terbuka.
Dengan ditetapkannya nomor urut, para kandidat kini resmi memiliki identitas dalam kontestasi politik di tingkat nagari.
Nomor urut tersebut nantinya akan digunakan dalam seluruh alat peraga kampanye hingga pada surat suara saat hari pemungutan suara.
Suasana pengundian di berbagai nagari terlihat berlangsung tertib, aman, dan penuh semangat kebersamaan.
Meski diwarnai dinamika dan antusiasme para pendukung, seluruh rangkaian kegiatan tetap berjalan lancar sesuai dengan aturan yang berlaku.
Momentum ini sekaligus menjadi awal bagi para calon untuk mulai lebih aktif menyosialisasikan diri kepada masyarakat.
Para kandidat diharapkan mampu menawarkan gagasan, program kerja, serta visi-misi yang realistis dan menyentuh kebutuhan masyarakat nagari.
Namun demikian, seluruh calon diingatkan agar mengedepankan etika dalam berkampanye.
Upaya meraih simpati masyarakat hendaknya dilakukan tanpa menjelek-jelekan atau menjatuhkan calon lainnya.
Pesan moral pun disampaikan agar setiap kandidat fokus pada kelebihan dan kekuatan program masing-masing.
“Perteranglah lampu kita seterang-terangnya, lampu orang jangan sampai dipadamkan,” menjadi ungkapan yang menggambarkan pentingnya kampanye yang sehat dan beretika.
Filosofi tersebut mengandung makna bahwa persaingan seharusnya dilakukan secara positif tanpa merusak citra pihak lain.
Selain itu, para calon wali nagari juga diminta untuk menjaga persatuan di tengah masyarakat.
Perbedaan pilihan politik dinilai sebagai hal yang wajar dalam demokrasi, namun tidak boleh memecah belah hubungan sosial di tengah anak nagari.
“Pilihan boleh berbeda, namun jangan sampai membuat kita terkotak-kotak,” menjadi seruan bersama agar Pilwana berlangsung damai dan tetap menjaga keharmonisan masyarakat hingga seluruh tahapan selesai. (Darwisman)


Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih