Tanah yang Mengajarkan Pulang : Minangkabau dalam Nafas Rantau

0

Oleh : Muhammad Faiz Hibahtullah, Mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas


Merantau


Bagi orang Minang, merantau rasanya sudah seperti bagian dari hidup. 


Dari dulu banyak orang pergi meninggalkan kampung untuk sekolah, bekerja, atau mencoba hidup baru di tempat lain.


Bahkan kadang ada anggapan kalau orang Minang memang nggak bisa terlalu lama diam di kampung. Saya sendiri juga tumbuh dengan cerita tentang saudara yang merantau ke berbagai daerah dan pulang hanya di waktu-waktu tertentu.


Di keluarga saya juga begitu. Ada mamak, uda, dan beberapa saudara yang tinggal jauh dari kampung. Ada yang di Jakarta, Pekanbaru, Batam, bahkan ada yang sudah lama tinggal di luar Sumatera. 


Tapi yang selalu menarik buat saya, walaupun mereka sudah lama hidup di rantau, kampung tetap seperti punya cara sendiri buat memanggil mereka pulang.


Saya baru benar-benar merasakan itu waktu lebaran beberapa tahun lalu. Rumah yang biasanya tenang tiba-tiba jadi ramai. 


Saudara berdatangan satu per satu, suara orang ngobrol terdengar sampai malam, dapur sibuk dari pagi, dan halaman rumah penuh kendaraan. Rasanya beda banget. Rumah seperti hidup lagi.


Kadang saya suka memperhatikan wajah orang yang baru pulang dari rantau. Walaupun kelihatan capek karena perjalanan jauh, tetap ada rasa senang waktu sampai di kampung. 


Mereka mulai cerita soal pekerjaan, kehidupan di kota, sampai pengalaman lucu selama di rantau. Dan anehnya, obrolan seperti itu bisa berlangsung lama sekali.


Menurut saya, orang Minang memang punya hubungan yang kuat dengan kampung halaman. Dari kecil sudah diajarkan tentang keluarga, adat, dan pentingnya tahu asal-usul sendiri. Jadi walaupun pergi jauh, rasa memiliki terhadap kampung tetap ada.


Saya sering dengar cerita dari keluarga yang merantau. Katanya hidup di luar kampung memang banyak mengajarkan hal baru. 


Orang jadi lebih mandiri, lebih kuat, dan belajar menghadapi banyak macam orang. Tapi di balik itu, ada juga rasa lelah dan rindu yang kadang nggak bisa dijelaskan.


Kadang yang dirindukan justru hal-hal sederhana. Masakan rumah, suara azan dari surau dekat rumah, suasana sore di kampung, atau sekadar duduk ngobrol di warung. Hal kecil seperti itu malah sering paling membekas di ingatan.


Saya pernah dengar saudara saya cerita tentang kehidupannya di Jakarta. Katanya hidup di kota besar memang ramai dan penuh kesempatan, tapi juga bikin capek. 


Orang sibuk sendiri-sendiri dan semuanya terasa cepat. Berbeda dengan kampung yang suasananya lebih santai dan terasa dekat satu sama lain.


Mungkin itu juga kenapa banyak orang Minang di rantau akhirnya mencari sesama orang kampung. 


Ada yang bikin perkumpulan, ada yang sering masak makanan Minang bersama, ada juga yang sengaja berkumpul cuma buat ngobrol pakai bahasa daerah. 


Dari situ saya merasa kalau rantau justru membuat orang makin sadar pentingnya identitas mereka sendiri.


Jujur saja, saya paling suka suasana ketika keluarga yang di rantau pulang kampung. Rumah jadi lebih ramai, makan bersama terasa lebih seru, dan malam-malam biasanya dipenuhi cerita panjang. 


Kadang ada yang cerita soal susahnya hidup di kota, ada yang cerita pengalaman lucu, bahkan ada yang mulai nostalgia soal masa kecil mereka di kampung.


Hal-hal seperti itu kelihatannya sederhana, tapi menurut saya justru di situlah rasa pulang terasa paling kuat. Bukan cuma kembali ke rumah, tapi kembali ke suasana yang bikin seseorang merasa diterima.


Sekarang banyak anak muda merantau bukan lagi semata karena tradisi, tapi juga karena pendidikan dan pekerjaan. Tapi menurut saya semangatnya masih sama, yaitu pergi untuk belajar dan mencari pengalaman hidup.


Yang menarik, walaupun sekarang teknologi sudah canggih dan orang bisa video call kapan saja, rasa rindu kampung tetap nggak bisa hilang begitu saja. 


Melihat rumah lewat layar HP tetap beda dengan benar-benar duduk di teras rumah sendiri sambil dengar suara orang-orang di sekitar.


Saya juga sering lihat orang tua yang anaknya merantau selalu menunggu waktu pulang. Kadang mereka nggak bilang langsung kalau rindu, tapi kelihatan dari cara mereka mulai sibuk menyiapkan makanan atau membersihkan rumah sebelum anak-anaknya datang.


Menurut saya, hubungan orang Minang dengan rantau memang unik. Orang pergi jauh untuk mencari kehidupan, tapi tetap diajarkan untuk jangan lupa kampung halaman. 


Bahkan banyak nasihat orang tua yang intinya tetap sama: pergi boleh jauh, tapi jangan sampai lupa asal.


Dan saya rasa itu yang bikin rantau orang Minang terasa berbeda. Karena sejauh apa pun seseorang berjalan, kampung tetap jadi tempat untuk kembali. Tempat untuk istirahat dari sibuknya hidup di luar sana.


Kadang saya juga berpikir, mungkin yang membuat orang Minang selalu ingin pulang bukan cuma karena keluarga. Tapi karena ada bagian dari diri mereka yang memang tertinggal di kampung itu sendiri. Ada kenangan masa kecil, ada suara-suara yang akrab sejak dulu, ada suasana yang nggak ditemukan di tempat lain.


Saya sendiri belum pernah merantau jauh seperti saudara-saudara saya. Tapi dari cerita mereka, saya mulai paham kalau rantau bukan cuma soal pergi mencari uang atau pekerjaan. Ada proses belajar hidup di dalamnya. Orang belajar bertahan, belajar menghargai waktu, dan belajar memahami arti rumah.


Pada akhirnya, rantau memang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Tapi tanah Minangkabau seperti selalu mengajarkan satu hal penting: sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada tempat untuk kembali. 


Dan mungkin itu sebabnya banyak orang Minang tetap ingin pulang, walaupun hidup mereka sudah lama berjalan jauh dari kampung halaman. (***/)

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top