Tradisi Bailau dalam Ratapan dan Ingatan Masyarakat Pesisir Selatan

0

 Oleh : Bunga Amelia, Mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas Padang.


Tradisi Bailau di Pesisir Selatan. Foto.Dok.Bunga Amelia


Masyarakat Pesisir Selatan, khususnya di daerah Bayang dan sekitarnya, dikenal memiliki banyak cara unik untuk mengungkapkan perasaan. 


Tidak hanya melalui pantun badendang yang ceria atau petatah-petitih adat, tetapi juga melalui ungkapan kesedihan. Salah satu tradisi lisan yang sangat menyentuh hati namun kini mulai hilang adalah Bailau.


Secara sederhana, Bailau merupakan tradisi meratap atau mendendangkan kesedihan yang biasanya dilakukan oleh ibu-ibu, seperti mak uncu, mak etek, atau bundo kanduang, ketika terjadi musibah besar, seperti kematian anggota keluarga atau musibah di laut.


Tukang ba-ilau adalah seniman yang mengekspresikan perasaannya kepada masyarakat melalui nyanyian, tarian, dan musik. 


Dalam upacara memanggil harimau, misalnya, ia mengajak harimau masuk ke pinjaro untuk menyelesaikan “utang” kepada masyarakat. 


Saat batagak datuk, tukang ba-ilau menyanyikan pantun ba-ilau untuk memeriahkan acara sekaligus mendoakan datuk yang baru diangkat. 


Ketika memanggil seseorang yang merantau, ia melantunkan sisomba agar orang yang dipanggil kembali ke kampung. Sementara dalam upacara kematian, sisomba dilantunkan sebagai ungkapan duka bagi orang yang telah tiada.


Ratapan dalam Bailau Bayang bukanlah tangisan kosong tanpa arti. Di balik air mata yang tumpah, terdapat bait-bait kalimat spontan yang keluar dari mulut peratap dengan bahasa khas masyarakat Bayang, Pesisir Selatan. 


Mereka mancaritokan (menceritakan) kebaikan orang yang telah payi (pergi), nasib keluarga yang ditinggalkan, hingga beratnya kehidupan sehari-hari tanpa kehadiran orang tersebut. 


Oleh sebab itu, tradisi ini bukan sekadar bentuk duka, melainkan juga cara masyarakat kampung memperkuat rasa kebersamaan dan meringankan rasa kehilangan keluarga yang ditinggalkan, termasuk bagi anggota keluarga yang merantau jauh dari kampung.


Namun, di zaman modern seperti sekarang, posisi Bailau mulai tergeser bahkan perlahan menghilang. Anak muda di sekitar Bayang dan Pesisir Selatan lebih akrab dengan gawai dan media sosial sehingga menganggap Bailau sebagai tradisi kuno dan terlalu dramatis. 


Mereka berpikir bahwa merantau bukan lagi persoalan berat karena komunikasi dapat dilakukan melalui WhatsApp dan media sosial. Oleh karena itu, tulisan ini dibuat untuk melihat kembali bagaimana tradisi Bailau hidup dalam keseharian masyarakat Pesisir Selatan, khususnya Bayang dan sekitarnya, serta mengapa nilai-nilainya masih penting untuk dirawat di tengah perkembangan zaman yang serba canggih.


Dalam kehidupan sehari-hari, manusia pasti menghadapi berbagai cobaan, seperti kehilangan anggota keluarga, kematian, kehilangan mata pencaharian, dan musibah lainnya. 


Bagi masyarakat nelayan dan petani di Pesisir Selatan, Bailau memiliki fungsi sebagai tempat menumpahkan isi hati dan emosi batin. 


Ketika kesedihan tidak lagi dapat dipendam sendiri di dalam rumah, bait-bait Bailau yang mendayu-dayu menjadi sarana berbagi rasa dengan tetangga dan kerabat yang datang melayat atau manjanguak. Melalui tradisi ini, mereka saling menguatkan dan mengurangi rasa kehilangan.


Selain sebagai ratapan duka, Bailau juga dilakukan untuk memanggil harimau. Tradisi ini biasanya dilaksanakan menjelang musim bertani, dengan tujuan meminta harimau menjaga ladang dan tidak merusak lahan pertanian masyarakat. 


Bailau biasanya dinyanyikan oleh sekelompok ibu-ibu yang saling berpegangan tangan di dekat hutan sambil mendendangkan syair-syair Bailau.


Sayangnya, tradisi ini mulai terkikis oleh perkembangan zaman, termasuk perubahan bahasa aslinya. Tradisi lisan Bailau diwariskan dalam bahasa Minangkabau dialek pesisir yang memiliki ciri khas perubahan bunyi vokal “a” menjadi “e”. Misalnya, kata ayam berubah menjadi ayen, kalam menjadi kalen, hitam menjadi iten, dan malam menjadi malen.


Dialek pesisir tentu berbeda dengan bahasa Minangkabau darek, seperti dialek Payakumbuh yang banyak menggunakan bunyi “o” dalam pengucapannya. 


Menariknya, bahasa yang digunakan dalam Bailau adalah bahasa sehari-hari sehingga siapa pun yang mendengarnya dapat langsung memahami dan ikut tatangih (menangis) merasakan kesedihan tersebut. Di sinilah letak kekuatan Bailau, yaitu menyatukan perasaan banyak orang melalui untaian kata yang jujur dari lubuk hati terdalam.


Jika dipelajari lebih dalam, isi ratapan Bailau di Pesisir Selatan biasanya mengandung beberapa nilai penting yang menjadi cerminan kehidupan masyarakat sehari-hari, antara lain :


Mengenang jasa almarhum


Ratapan menceritakan kebaikan dan jasa orang yang telah meninggal semasa hidupnya dalam kehidupan bermasyarakat di nagari.


Ratapan nasib (untuang badan)


Berisi kisah tentang nasib anak-anak yang ditinggalkan atau sulitnya mencari nafkah ke laut dan ke sawah setelah kehilangan tulang punggung keluarga.


Nasihat keimanan


Mengingatkan para pelayat bahwa dunia ini hanya sementara dan semua yang bernyawa pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.


Ada beberapa alasan mengapa tradisi Bailau mulai ditinggalkan dalam kehidupan masyarakat, di antaranya :


Pergeseran pandangan keagamaan


Sebagian masyarakat menilai meratapi orang meninggal secara berlebihan kurang sejalan dengan ajaran agama sehingga kebiasaan ba-ilau mulai dibatasi atau bahkan ditinggalkan.


Kurangnya minat generasi muda


Banyak anak muda di Bayang menganggap Bailau sebagai sesuatu yang kuno, terlalu sedih, bahkan mistis. Akibatnya, tidak terjadi lagi pewarisan tradisi dari generasi tua kepada generasi muda.


Tradisi Bailau di Pesisir Selatan, khususnya di Bayang, merupakan bukti bahwa leluhur memiliki cara yang mendalam untuk mengelola rasa duka. Bailau bukan sekadar tangisan biasa, melainkan karya sastra lisan yang merekam realitas kehidupan, hubungan antarmanusia, dan kearifan lokal masyarakat Pesisir Selatan.


Agar tradisi ini tidak hilang ditelan zaman, diperlukan upaya kreatif untuk melestarikannya. Misalnya dengan mendokumentasikan teks-teks Bailau ke dalam bentuk tulisan maupun digital, menjadikannya bahan diskusi di komunitas seni, atau mengkajinya di kampus sebagai penelitian budaya yang hampir punah. Dengan cara itu, nilai kebersamaan dan tenggang rasa yang terkandung di dalamnya tetap dapat diwariskan kepada generasi masa depan.


Selain itu, masyarakat juga perlu memahami bahwa tradisi Bailau merupakan bagian dari kearifan lokal yang memiliki nilai budaya dan sosial, sehingga tidak semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang menyimpang atau terlalu dramatis.


Harapannya, tradisi Bailau dapat kembali dilestarikan oleh generasi muda di Pesisir Selatan, khususnya Bayang dan sekitarnya. Dengan begitu, Bailau tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi juga dapat hidup kembali sebagai identitas budaya yang diwariskan kepada generasi mendatang. (**/)

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top