Tradisi Manggodok di Nagari Sirukam sebagai Media Mempererat Silaturahmi dan Solidaritas Sosial

0

Oleh : NINDIA ILHAMMY, Mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas Padang.




Masyarakat Minangkabau dikenal memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat. Pola kehidupan sosial mereka berlandaskan filosofi “Alam Takambang Jadi Guru”, yakni ajaran untuk belajar dari lingkungan sekitar dalam bertindak dan bergaul di kehidupan sehari-hari. 


Nilai-nilai tersebut tercermin dalam kebiasaan hidup masyarakat yang rukun, kompak, dan saling membantu, terutama ketika ada acara besar di tengah nagari.


Di Nagari Sirukam, Kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok, terdapat sebuah tradisi adat menjelang pernikahan yang memiliki nilai sosial tinggi, yaitu Tradisi Manggodok. 


Secara harfiah, manggodok berarti kegiatan membuat kue godok, makanan tradisional khas Minangkabau yang berbahan dasar pisang atau ubi, tepung beras, dan parutan kelapa yang digoreng. 


Namun, jika ditinjau dari sudut pandang sosial dan budaya, tradisi ini memiliki makna yang jauh lebih mendalam daripada sekadar aktivitas memasak biasa.


Tradisi Manggodok merupakan bagian penting dari rangkaian upacara pernikahan adat di Nagari Sirukam. Kegiatan ini menjadi ruang berkumpul masyarakat untuk bergotong royong membantu keluarga yang akan melaksanakan pesta pernikahan anak kemenakan mereka. 


Melalui tradisi tersebut, masyarakat tidak hanya membuat makanan untuk keperluan pesta, tetapi juga mempererat silaturahmi, memperkuat solidaritas sosial, dan menjaga keharmonisan hidup bersama melalui konsep “pola awak samo awak”.


Eksistensi Tradisi Manggodok sebagai agenda wajib menjelang pesta pernikahan tetap bertahan hingga kini karena pelaksanaannya selalu melibatkan banyak orang secara sukarela. 


Tradisi ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum akad nikah atau pesta baralek berlangsung. 


Selain menjadi tanda akan adanya pesta besar di rumah calon pengantin, kegiatan ini juga berfungsi untuk meringankan beban keluarga yang memiliki hajatan.


Prosesi manggodok diawali dengan kegiatan mambari tahu, yaitu tradisi mengundang tetangga, kerabat, dan karib bako secara lisan dari rumah ke rumah untuk ikut membantu. 


Persiapan tidak hanya dilakukan oleh kaum perempuan, tetapi juga melibatkan kaum laki-laki yang bertugas menyiapkan kayu bakar, mendirikan tenda, dan mempersiapkan berbagai kebutuhan lainnya.


Pada hari pelaksanaan, para perempuan mulai dari bundo kanduang hingga remaja putri berkumpul di rumah calon pengantin sambil membawa bahan makanan atau menyumbangkan tenaga. 


Aktivitas mengupas pisang, mengaduk adonan, hingga menggoreng godok di dalam kancah besar menjadi ruang interaksi sosial yang hangat. 


Di sela-sela kesibukan tersebut, masyarakat saling berbincang, bercanda, bertukar pengalaman, hingga memberikan nasihat kehidupan kepada calon pengantin.


Suasana penuh keakraban yang tercipta selama proses manggodok membuat rasa lelah tidak terasa. 


Kepulan asap kayu bakar, aroma manis kue godok, serta gelak tawa masyarakat menciptakan energi kebersamaan yang begitu kuat. 


Tradisi ini menunjukkan bahwa dapur bukan hanya tempat memasak, melainkan juga ruang sosial yang mempererat hubungan antarsesama warga.


Dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau, silaturahmi menjadi fondasi utama dalam menjaga keseimbangan hubungan kekerabatan tungku tigo sajarangan. 


Tradisi Manggodok di Nagari Sirukam berhasil menjadi wadah peleburan status sosial di tengah masyarakat. 


Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat maupun masyarakat biasa, karena semua memiliki peran yang sama dalam menyukseskan pesta pernikahan tetangganya.


Selain mempererat hubungan sosial, Tradisi Manggodok juga menjadi sarana transfer nilai budaya antar-generasi. 


Para orang tua biasanya menyisipkan petuah dan nasihat kehidupan melalui petatah-petitih Minangkabau kepada generasi muda. 


Nilai-nilai tentang tata krama, tanggung jawab rumah tangga, hingga prinsip “kato nan ampek” seperti kato mandaki, kato manurun, kato mandata, dan kato malereang diajarkan secara langsung dalam suasana santai dan akrab.


Di sisi lain, tradisi ini juga memiliki fungsi sosial sebagai ruang penyelesaian konflik di tengah masyarakat. 


Kesalahpahaman atau ketegangan antarwarga dapat mencair melalui interaksi hangat selama proses manggodok. 


Suasana penuh canda, makan bersama, dan kebersamaan secara tidak langsung membantu meredam emosi serta memperkuat kembali hubungan sosial yang sempat renggang.


Jika ditinjau dari perspektif sosiologi, Tradisi Manggodok mencerminkan bentuk solidaritas mekanis yang masih kuat di masyarakat nagari. 


Solidaritas tersebut lahir dari kesadaran bersama untuk saling membantu dan menjaga keharmonisan kehidupan. 


Nilai gotong royong yang tercermin dalam pepatah “saciok bak ayam, sadanciang bak basi” tampak jelas melalui partisipasi masyarakat yang rela menyumbangkan tenaga, waktu, bahkan bahan makanan tanpa mengharapkan imbalan.


Semangat kebersamaan itu juga terlihat dari kebiasaan membagikan kue godok kepada tetangga setelah proses memasak selesai. 


Kue tersebut tidak hanya disiapkan untuk tamu pesta, tetapi juga dibagikan kepada warga sekitar, termasuk mereka yang tidak sempat hadir membantu. 


Kebiasaan berbagi ini menumbuhkan rasa empati dan memperkuat kesadaran bahwa beban sebuah pesta pernikahan merupakan tanggung jawab bersama.


Filosofi bahan-bahan dalam pembuatan godok juga mengandung pelajaran kehidupan bagi calon pengantin. Pisang yang lembek, tepung beras yang kering, dan parutan kelapa yang kasar tidak memiliki nilai jika berdiri sendiri. 


Namun, ketika semua bahan tersebut dicampur dan diproses bersama, terciptalah makanan yang manis dan nikmat. 


Hal ini menjadi simbol bahwa perbedaan sifat dan latar belakang suami istri harus disatukan melalui musyawarah, toleransi, dan komitmen agar tercipta rumah tangga yang harmonis.


Meski memiliki nilai budaya dan sosial yang tinggi, Tradisi Manggodok saat ini menghadapi tantangan akibat arus modernisasi. 


Gaya hidup praktis membuat sebagian masyarakat lebih memilih menggunakan jasa katering atau wedding organizer dibandingkan melaksanakan tradisi secara gotong royong. 


Selain itu, banyak generasi muda yang merantau sehingga keterlibatan mereka dalam tradisi adat semakin berkurang.


Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, maka identitas budaya yang diwariskan oleh leluhur perlahan dapat memudar. 


Oleh sebab itu, diperlukan kerja sama antara pemangku adat, pemerintah nagari, dan masyarakat untuk menjaga keberlangsungan tradisi ini. 


Ninik mamak dan Kerapatan Adat Nagari (KAN) memiliki peran penting dalam mengingatkan masyarakat agar tetap mempertahankan Tradisi Manggodok sebagai bagian dari adat pernikahan di Sirukam.


Generasi muda juga perlu dilibatkan melalui pendekatan yang lebih kreatif, seperti mendokumentasikan proses manggodok dan menyebarkannya melalui media sosial. 


Dengan cara tersebut, generasi milenial dan Gen Z dapat lebih mengenal, memahami, serta merasa bangga terhadap warisan budaya daerahnya sendiri. (**/)

Kesimpulannya, Tradisi Manggodok di Nagari Sirukam bukan sekadar kegiatan memasak menjelang pesta pernikahan. Tradisi ini merupakan pranata sosial dan institusi budaya yang memiliki fungsi penting dalam mempererat silaturahmi, memperkuat solidaritas sosial, dan menjaga keharmonisan masyarakat. Melalui kebersamaan, petuah adat, dan semangat gotong royong yang tumbuh selama proses manggodok, masyarakat berhasil mempertahankan nilai-nilai luhur Minangkabau agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Menjaga Tradisi Manggodok berarti menjaga identitas budaya, memperkuat kepedulian sosial, serta membentengi masyarakat dari sikap individualisme di era modern. Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya melestarikan makanan khas daerah, tetapi juga merawat jiwa kebersamaan masyarakat Nagari Sirukam agar tetap kokoh sepanjang masa.

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top