Oleh ; Lusi Rahmawati, Mahasiswa Jurusan Satra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas
![]() |
Hallo, pembaca ! Pernahkah anda menyadari bahwa di setiap daerah itu pasti memiliki kebiasaan, kebudayaan, dan cara pandang yang berbeda-beda? Pernahkah anda mengetahui apa yang di maksud dengan tradisi? Dan mengapa tradisi hingga saat ini terus di jaga dan dilestarikan ?
Nah melalui artikel ini kita akan membahas lebih lanjut tentang apasih sebenarnya tradisi itu, tradisi plakat panjang itu apa sih sebenarnya?
Tradisi merupakan warisan budaya yang terus-menerus dijaga dan dilakukan oleh masyarakat secara turun-temurun.
Tradisi itu sendiri pada awalnya berasal dari kebiasaan-kebiasaan kecil atau hal-hal yang dianggap sepele.
Namun, bagi nenek moyang kita pada zaman dahulu, hal-hal kecil tersebut sangat berarti dalam kehidupan mereka.
Oleh karena itu, mereka sangat menghargai dan menghormati setiap kebiasaan maupun kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Dari kebiasaan itulah kemudian lahir berbagai tradisi yang terus diwariskan hingga saat ini sebagai bagian dari budaya masyarakat.
Tradisi itu bukan hanya sekadar kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang, tetapi di dalam tradisi itu juga memiliki nilai dan makna yang sagat penting untuk kita jadikan pelajaran dalam kehidupan sehari-hari.
Di setiap tradisi itu tentunya pasti memiliki aturan, cara pandang, yang berbeda, dan pesan-pesan kehidupan yang diwariskan oleh para nenek moyang kepada generasi nya juga berbeda.
Oleh karena itu, setiap tradisi itu harus dihargai, dijaga, dan dilestarikan agar nilai budaya yang diwariskan tetap hidup dan tidak hilang.
Salah satu cara menjaga tradisi itu agar tetap terjaga yaitu dengan cara mengenalkanya, serta mengajarkanya kepada generasi muda.
Sebab banyak kita lihat pada saat sekarang ini anak muda mulai lupa, bahkan tidak mengetahui tradisi dan kebudayaan mereka sendiri.
Apalagi zaman sekarang ini sudah modern banyak pengaruh dari budaya luar yang bisa merubah identitas suatu negri, salah satu contohnya dapat kita lihat di masyarakat Minangkabau yang mulai mengalami perubahan bahasa yang awalnya menggunakan bahasa minangkabau.
Karena terpengaruh oleh budaya luar maka orang minang banyak lupa dengan bahasa asli minangkabau yang di gunakan, kemudian cara berpakaian dahulu perempuan Minangkabau, berpakaian menggunakan baju kuruang basibah di keseharian mereka,dan sekarang sudah berbeda dan jarang di gunakan, kecuali dalam kegiatan tertentu.
Kita menjaga tradisi itu bukan hanya karena kegiatan tersebut dilakukan secara turun-temurun, tetapi juga karena tradisi mengajarkan kita cara menghargai kepercayaan, kebersamaan, dan arti nilai kehidupan.
Tradisi dipakai oleh masyarakat sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan sosial, adat istiadat, maupun cara menghormati sesama.
Karena itulah, tradisi dianggap sebagai salah satu bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat.
Masyarakat pada zaman dahulu sangat menjunjung tinggi tradisi. Setiap kegiatan yang dilakukan bersama-sama selalu memiliki makna tertentu dan dipercaya membawa kebaikan bagi kehidupan masyarakat.
Tradisi juga menjadi simbol persatuan karena melalui tradisi masyarakat dapat berkumpul, saling bekerja sama, dan mempererat hubungan kekeluargaan.
Tidak heran jika hingga saat ini banyak tradisi yang masih terus dipertahankan walaupun zaman sudah berkembang semakin modern.
Indonesia sendiri merupakan negara yang memiliki keberagaman budaya yang sangat luas. Setiap daerah di Indonesia memiliki adat istiadat, bahasa, kesenian, dan tradisi yang berbeda-beda.
Keberagaman tersebut menjadi salah satu kekayaan budayaan yang dimiliki bangsa Indonesia dan membuat Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya.
Dari Sabang sampai Merauke, hampir setiap daerah memiliki tradisi khas yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakatnya.
Tradisi-tradisi tersebut biasanya lahir dari kehidupan masyarakat pada masa lalu yang kemudian terus dijaga hingga sekarang.
Tradisi yang ada di setiap daerah juga memiliki tujuan dan makna yang berbeda-beda.
Ada tradisi yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, ada tradisi yang bertujuan mempererat hubungan masyarakat, dan ada juga tradisi yang berkaitan dengan pekerjaan maupun mata pencaharian masyarakat setempat.
Misalnya di daerah pesisir pantai terdapat tradisi yang berhubungan dengan laut dan nelayan, sedangkan di daerah pegunungan atau perbukitan banyak tradisi yang berkaitan dengan pertanian dan kehidupan masyarakat tani.
Dari sinilah dapat dilihat bahwa tradisi sangat dekat dengan kehidupan masyarakat dan menjadi bagian penting dalam kebudaya suatu daerah.
Salah satu daerah di Indonesia yang sangat terkenal dengan adat istiadat dan tradisinya ialah daerah minangkabau, yang berada di Sumatera Barat.
Masyarakat Minangkabau dikenal sebagai masyarakat yang masih kuat memegang adat istiadatnya yang berlandaskan pada "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" yang artinya adat itu di landaskan pada syaria't, agama dan kitab allah yaitu(Al-Qur’an).
Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, adat dan tradisi masih sangat dihormati dan dijaga oleh masyarakat Minangkabau. Hal seperti ini dapat kita dilihat dari berbagai kegiatan adat, kesenian tradisional, upacara adat, hingga tradisi lainnya yang ada du masyarakat yang masih terus dilaksanakan sampai sekarang ini.
Minangkabau juga memiliki banyak tradisi yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, seperti tradisi dalam acara pernikahan, kelahiran, kematian, musyawarah adat, hingga tradisi yang berkaitan dengan pertanian.
Tradisi-tradisi tersebut bukan hanya dilakukan sebagai kebiasaan saja, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, rasa hormat kepada orang tua, serta penghargaan terhadap adat dan budaya daerah.
Oleh sebab itu, masyarakat Minangkabau sangat menjaga tradisi agar tidak hilang oleh perkembangan zaman.
Nah, kalau berbicara mengenai tradisi di Minangkabau, di kabupaten solok kecamatan pantai cermin nagari Surian tepatnya di jorong tampat Kapalo Koto terdapat sebuah tradisi yang dikenal dengan nama "Tradisi Plakat Panjang Turun Kasawah".
Tradisi Plakat Panjang merupakan tradisi turun ka sawah, tradisi keselamatan atau syukuran setelah panen padi dan berdo'a untuk meminta keselamatan serta keamanan hasil panen berikutnya yang salah satu tradisi masyarakat Nagari Surian, yang masih dilestarikan hingga sekarang ini.
Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun sekitar lima belas hari setelah puasa ramadhan. Tradisi ini memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat karena menjadi bentuk rasa syukur, kebersamaan, dan persiapan sebelum memulai musim pertanian.
Tradisi Plakat Panjang dilakukan oleh seluruh masyarakat Nagari Surian. Dalam pelaksanaan kegiatan ini di hadiri oleh niniak mamak, penghulu, dubalang, manti, kepala suku, anak kemenakan, wali nagari, bundo kanduang, serta tokoh masyarakat lainnya.
Kehadiran seluruh unsur masyarakat tersebut menunjukkan bahwa tradisi ini bukan hanya kegiatan adat biasa, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat Nagari Surian.
Sebelum tradisi dilaksanakan, terlebih dahulu diadakannya musyawarah mufakat di Kerapatan Adat Nagari. Musyawarah tersebut dihadiri oleh niniak mamak dari berbagai suku, tokoh masyarakat, wali nagari, pihak kecamatan, polisi, dan unsur masyarakat lainnya.
Dalam musyawarah tersebut dibahas waktu pelaksanaan acara serta kesepakatan mengenai waktu turun ke sawah secara serentak.
Setelah keputusan diambil, niniak mamak masing-masing suku akan menyampaikan informasi kepada anak kemenakan dan masyarakat.
Kemudian pelaksanaan Tradisi Plakat Panjang ini dilakukan di Tampat Kapalo Koto, ,tempat ini sejak dahulu digunakan oleh niniak mamak dan masyarakat untuk bermusyawarah dan bermufakat.
Di tempat inilah masyarakat dahulu menentukan kesepakatan bersama mengenai waktu turun ke sawah agar dilakukan secara serentak. Karena itulah tempat tersebut dianggap memiliki nilai sejarah dan makna penting bagi masyarakat Nagari Surian.
Pada hari pelaksanaan, masyarakat datang bersama-sama dengan memakai pakaian adat sesuai kedudukannya masing-masing.
Niniak mamak mengenakan pakaian adat kebesaran, sedangkan bundo kanduang memakai baju kuruang basibah dan kain songket atau sampiang.
Tradisi ini diawali dengan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen tahun sebelumnya.
Selain itu, masyarakat juga memohon agar sawah yang akan dikerjakan dijauhkan dari hama, penyakit tanaman, dan segala bencana, sehingga hasil panen menjadi baik dan melimpah.
Dalam tradisi ini terdapat kegiatan nazar. nazar ini berupa janji masyarakat bahwa apabila hasil pertanian berhasil dan diberi rezeki yang baik, maka mereka akan menyembelih sapi sebagai bentuk rasa syukur.
Sapi yang disembelih itu merupakan sapi nazar yang berasal dari kebersamaan dan kesepakatan masyarakat bersama. Setelah sapi itu disembelih, kaum ibu atau bundo kanduang bersama-sama memasak daging tersebut di lokasi acara.
Setelah masakan selesai, makanan akan dihidangkan kepada niniak mamak, tokoh adat, tamu undangan, dan seluruh masyarakat yang hadir.
Kegiatan makan bersama ini menjadi simbol kebersamaan dan rasa persaudaraan masyarakat Nagari Surian.
Selain kegiatan adat dan doa bersama, Tradisi Plakat Panjang juga dimeriahkan dengan berbagai kesenian tradisional Minangkabau seperti silek, randai, tari tradisional, dan pertunjukan adat.
Kesenian tersebut menjadi hiburan bagi masyarakat sekaligus sebagai bentuk pelestarian budaya agar tetap dikenal oleh generasi muda.
Setelah kegiatan di Tampat Kapalo Koto selesai, maka masyarakat akan melanjutkan kegiatan ini ke Kapalo Banda. Kapalo Banda merupakan tempat sumber saluran air untuk sawah masyarakat.
Di tempat ini masyarakat kembali bermusyawarah untuk menentukan jadwal gotong royong untuk membersihkan banda atau saluran air sawah.
Hal tersebut dilakukan karena masyarakat percaya bahwa sawah tidak akan menghasilkan panen yang baik apabila saluran air tidak dirawat dengan baik.
Di Kapalo Banda juga dilakukan penyembelihan kerbau dan makan bersama. Setelah itu masyarakat menentukan hari gotong royong membersihkan saluran air.
Pada saat gotong royong, masyarakat biasanya membawa nasi bungkus masing-masing dan makan bersama di lokasi pekerjaan, sedangkan kaum ibu membawa minuman dan makanan ringan.
Tradisi ini menunjukkan kuatnya budaya gotong royong dalam kehidupan masyarakat Nagari Surian.
Melalui Tradisi Plakat Panjang Turun Kasawah, masyarakat Nagari Surian tidak hanya menjaga adat dan budaya warisan nenek moyang, tetapi juga mempererat rasa persaudaraan, kebersamaan, dan semangat gotong royong.
Hingga sekarang, tradisi ini masih terus dipertahankan sebagai salah satu identitas budaya masyarakat Nagari Surian. (***/)


Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih