Tradisi Tupai Janjang dan Upaya Pelestarian Budaya Lokal di Nagari Tigo Koto Silungkang

0

Oleh : Nurhayasi Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas



Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dan tradisi daerah. Setiap daerah memiliki ciri khas budaya yang diwariskan secara turun-temurun sebagai identitas masyarakatnya. 


Salah satu tradisi budaya yang masih dikenal hingga saat ini adalah Tradisi Tupai Janjang yang berasal dari Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Tradisi ini merupakan bentuk sastra lisan Minangkabau yang menggabungkan seni bercerita, gerak tari, dialog, dan unsur hiburan rakyat. Tradisi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mengandung pesan moral, nilai sosial, dan nilai pendidikan bagi masyarakat.


Di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, keberadaan tradisi lokal mulai menghadapi berbagai tantangan. Generasi muda cenderung lebih tertarik pada budaya modern dibandingkan budaya tradisional. 


Kondisi ini menyebabkan beberapa kesenian daerah mulai terlupakan bahkan terancam punah. Oleh sebab itu, pelestarian budaya lokal menjadi hal yang sangat penting agar warisan budaya tetap hidup dan dikenal oleh generasi selanjutnya.


Salah satu kesenian yang terancam punah adalah Tupai Janjang, sebuah tradisi bakaba (bercerita) yang berasal dari Silungkang, Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Tradisi yang tumbuh di nagari yang asri ini memiliki makna besar dalam kehidupan masyarakat dan bahkan telah mendapat apresiasi hingga tingkat internasional pada tahun 2023. Keberadaan tradisi ini menjadi pembeda daerah tersebut dengan daerah lain sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Selain itu, kesenian Tupai Janjang juga telah masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada tahun 2023.


Maestro Palembayan, Amril Sutan Caniago, menceritakan bahwa kesenian ini mengisahkan tentang Puti Silinduang Bulan dan Datuk Bandaro yang tinggal di Kampung Pakudoran. Meski telah sepuluh tahun menikah, mereka belum juga dikaruniai anak. Suatu hari, mereka melakukan perjalanan menuju ladang kopi di daerah Tabek Talao. Perjalanan panjang tersebut melewati Lumbuak Batu, Kampung Pinang, Kampung Lansek, hingga menuju Gunung Sago dan tiba di Kayu Ampek.


Di kebun tersebut, Puti Silinduang Bulan melihat seekor tupai yang melompat di atas kayu. Ia kemudian bertanya kepada Datuk Bandaro tentang nama binatang tersebut. Karena tidak mengetahui jawabannya, Datuk Bandaro bertanya kepada Bujang Salamaik. Bujang Salamaik pun menjawab bahwa binatang itu bernama tupai janjang dan sering menjadi teman bermainnya. Mendengar jawaban tersebut, Puti Silinduang Bulan berkata kepada suaminya bahwa ia ingin memiliki anak seperti tupai janjang yang mampu menghadirkan kebahagiaan. Kisah tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.


Pada awalnya, Tupai Janjang berkembang dari kebiasaan orang tua mendongeng kepada anak cucu sebagai media pendidikan moral. Menurut Gayatri dalam Efendi (2011:103), kesenian ini dahulu merupakan bagian dari pertunjukan randai yang ditampilkan pada waktu istirahat. Kini, Tupai Janjang telah berkembang menjadi pertunjukan mandiri dengan ciri khas tersendiri. Pertunjukan ini dimainkan oleh seorang penutur tunggal yang memerankan berbagai tokoh melalui gerakan tubuh menyerupai seni bela diri silat Minangkabau. Selain itu, penutur juga menyanyikan nyanyian khas sebagai pengantar suasana cerita. Cerita yang dibawakan diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi tanpa naskah tertulis.


Tradisi Tupai Janjang biasanya ditampilkan pada malam hari di halaman rumah atau tempat terbuka. Pertunjukan ini sering hadir dalam acara pernikahan, alek nagari, dan festival budaya. Kehadiran masyarakat dalam pertunjukan menunjukkan bahwa Tupai Janjang memiliki fungsi sosial sebagai sarana hiburan sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat sehingga tercipta hubungan yang harmonis dalam kehidupan sosial.


Tradisi Tupai Janjang mengandung berbagai nilai budaya yang penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Salah satu nilai yang terkandung adalah nilai moral. Cerita yang disampaikan mengajarkan masyarakat, terutama anak-anak, agar memiliki perilaku baik, menghormati orang lain, dan menjaga hubungan sosial. Selain itu, tradisi ini juga mengandung nilai pendidikan. Melalui cerita dan dialog yang dibawakan, masyarakat dapat memahami nasihat kehidupan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. Seni bertutur dalam Tupai Janjang juga menjadi media penyampaian adat dan norma masyarakat Minangkabau.


Nilai sosial juga tampak dalam pelaksanaan pertunjukan. Masyarakat berkumpul bersama untuk menyaksikan pertunjukan sehingga tercipta rasa kebersamaan dan solidaritas. Dalam budaya Minangkabau, kebersamaan merupakan bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat.


Namun, dalam pelestariannya terdapat tantangan yang cukup besar. Meskipun memiliki nilai budaya yang tinggi, Tradisi Tupai Janjang menghadapi berbagai hambatan. Salah satu tantangan terbesar adalah berkurangnya minat generasi muda terhadap kesenian tradisional. Perkembangan media sosial dan hiburan modern membuat budaya tradisional mulai tersisihkan.


Selain itu, jumlah seniman atau penutur Tupai Janjang juga semakin sedikit. Tidak semua generasi muda memiliki kemampuan dan minat untuk mempelajari seni bertutur tersebut. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka Tradisi Tupai Janjang dapat mengalami kepunahan.


Kurangnya dukungan dan promosi budaya juga menjadi kendala dalam pelestarian tradisi ini. Pertunjukan Tupai Janjang belum terlalu sering ditampilkan dalam kegiatan besar sehingga masyarakat luar belum banyak mengenalnya. Padahal, tradisi ini memiliki potensi besar sebagai daya tarik budaya dan pariwisata.


Untuk menjaga keberlangsungan Tradisi Tupai Janjang, diperlukan berbagai upaya pelestarian budaya lokal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengenalkan tradisi ini kepada generasi muda melalui pendidikan dan kegiatan budaya di sekolah. Dengan demikian, anak-anak dan remaja dapat memahami pentingnya menjaga warisan budaya daerah.


Pemerintah daerah dan masyarakat juga perlu bekerja sama dalam mengadakan festival budaya dan pertunjukan seni tradisional. Festival budaya di Nagari Tigo Koto Silungkang menjadi salah satu bentuk usaha pelestarian budaya Minangkabau yang melibatkan masyarakat secara langsung.


Selain itu, dokumentasi budaya juga sangat penting dilakukan. Tradisi Tupai Janjang dapat direkam dalam bentuk video, tulisan, maupun penelitian ilmiah agar tetap dapat dipelajari oleh generasi mendatang. Penelitian mengenai dramaturgi dan pertunjukan Tupai Janjang telah dilakukan oleh akademisi sebagai bentuk pelestarian pengetahuan budaya. Pemanfaatan media sosial juga dapat menjadi sarana promosi budaya yang efektif. Dengan memperkenalkan Tupai Janjang melalui internet dan media digital, masyarakat luas dapat mengenal budaya tersebut sehingga eksistensinya tetap terjaga.


Tradisi Tupai Janjang merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Minangkabau, khususnya Nagari Tigo Koto Silungkang, yang menjadi ikon daerah tersebut. Tradisi ini mengandung nilai moral, budaya, pendidikan, sosial, dan hiburan yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, Tradisi Tupai Janjang harus dijaga agar tidak hilang seiring perkembangan zaman.


Pelestarian budaya lokal menjadi tanggung jawab bersama, baik masyarakat maupun pemerintah. Dukungan melalui festival budaya, pendidikan, dokumentasi, dan promosi budaya perlu terus dilakukan agar Tradisi Tupai Janjang dapat bertahan hingga generasi mendatang. Dengan demikian, budaya lokal tidak hanya menjadi kenangan, tetapi tetap hidup dan berkembang sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Minangkabau. (**/)

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top