![]() |
| Wali Kota Pariaman Yota Balad |
Perjalanan hidup seseorang tidak selalu berjalan lurus. Ada kalanya jalan yang ditempuh dipenuhi kegagalan, penolakan, dan keputusan-keputusan besar yang menguji keberanian.
Namun, dari proses itulah lahir pemimpin yang memahami arti perjuangan dan pengabdian.
Kisah itulah yang tergambar dalam perjalanan hidup Yota Balad, S.STP., M.Si., birokrat tulen yang kini dipercaya memimpin Kota Pariaman sebagai Wali Kota periode 2025–2030.
Lahir di Kampung Baru, Pariaman Tengah, pada 2 Agustus 1977, Yota Balad tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara.
Sejak kecil, ia menjalani kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan anak-anak Pariaman lainnya. Lingkungan kampung halaman menjadi tempat ia belajar mengenal kehidupan, nilai-nilai kebersamaan, serta pentingnya pendidikan sebagai bekal masa depan.
Masa kecil dan remajanya dihabiskan sepenuhnya di Kota Pariaman. Ia mengawali pendidikan di TK Kutilang pada tahun 1982, kemudian melanjutkan ke SDN 01 Pariaman, SMPN 1 Pariaman, hingga menamatkan pendidikan di SMAN 1 Pariaman pada tahun 1995. Di bangku sekolah, Yota dikenal aktif dan memiliki minat besar di bidang olahraga, khususnya tenis lapangan.
Di balik sosoknya yang kini dikenal ramah dan murah senyum, tersimpan kisah perjuangan yang tidak ringan. Selepas menamatkan pendidikan di SMAN 1 Pariaman, Yota memiliki cita-cita besar untuk menjadi bagian dari aparatur negara. Namun jalan menuju impian itu tidak langsung terbuka.
Tahun 1995 menjadi masa yang penuh ujian. Ia mengikuti seleksi Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri), tetapi belum berhasil.
Tidak lama berselang, ia kembali mencoba peruntungan dengan mengikuti seleksi Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), yang kini dikenal sebagai Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Hasilnya pun belum sesuai harapan.
Dua kegagalan beruntun tentu bukan perkara mudah bagi seorang pemuda yang baru menamatkan sekolah menengah.
Namun kegagalan itu tidak membuatnya menyerah. Ia memilih tetap melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Teknik Padang selama dua semester sambil mempersiapkan diri untuk mencoba kembali.
Keyakinan bahwa jalan hidup harus diperjuangkan terus tumbuh dalam dirinya. Pada tahun 1997, Yota kembali mengikuti seleksi STPDN untuk kedua kalinya. Kesempatan kedua itu menjadi titik balik penting dalam hidupnya.
Usaha yang dilakukan dengan kesabaran dan ketekunan akhirnya membuahkan hasil. Ia dinyatakan lulus dan resmi menjadi praja STPDN.
Perjalanan yang sebelumnya dipenuhi kegagalan berubah menjadi awal dari karier panjang yang kelak mengantarkannya menjadi salah satu birokrat paling berpengaruh di Kota Pariaman.
Setelah menyelesaikan pendidikan dan lulus pada tahun 2001, Yota memulai pengabdian sebagai aparatur sipil negara di Kabupaten Tanah Datar.
Masa tugas awal tersebut menjadi sekolah kehidupan yang memperkaya pengalaman dan pemahamannya tentang pemerintahan serta pelayanan publik.
Tiga tahun kemudian, pada 2004, ia kembali ke tanah kelahirannya. Kepulangan itu menjadi awal perjalanan panjang yang menghubungkannya secara langsung dengan pembangunan Kota Pariaman.
Karier birokrasi yang dijalani Yota tidak dibangun secara instan. Ia meniti setiap jenjang jabatan dari bawah. Berbagai posisi strategis pernah diembannya, mulai dari Kepala Seksi Pemerintahan, Sekretaris Camat Pariaman Utara, hingga Camat Pariaman Tengah.
Kemampuan manajerial dan kepemimpinannya membuat kepercayaan terus datang. Ia kemudian dipercaya menjabat sebagai Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, Kepala Dinas Perhubungan dan Kominfo, Inspektur, hingga akhirnya mencapai puncak karier aparatur sipil negara sebagai Sekretaris Daerah Kota Pariaman pada periode 2021–2024.
Di tengah kesibukan sebagai birokrat, Yota tidak melupakan pentingnya pendidikan. Ia melanjutkan studi ke jenjang magister dan berhasil meraih gelar M.Si. dari Universitas Bung Hatta pada tahun 2012. Baginya, belajar adalah proses yang tidak pernah berhenti.
Selama lebih dari dua dekade mengabdi, hampir seluruh denyut pemerintahan Kota Pariaman pernah disentuhnya. Pengalaman tersebut membuatnya memahami secara mendalam kebutuhan masyarakat sekaligus tantangan pembangunan yang dihadapi daerah.
Menjelang akhir tahun 2024, Yota mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Saat berada di posisi yang sangat nyaman sebagai Sekretaris Daerah, ia memilih melepaskan status aparatur sipil negara yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.
Keputusan itu tidak sederhana. Ia rela meninggalkan sekitar 13 tahun masa dinas yang masih tersisa demi sebuah panggilan pengabdian yang lebih luas.
Baginya, melayani masyarakat tidak harus selalu melalui jalur birokrasi, tetapi juga dapat dilakukan melalui kepemimpinan politik yang mendapat mandat langsung dari rakyat.
Bersama Mulyadi, politikus dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Yota maju dalam Pemilihan Wali Kota Pariaman 2024 dengan dukungan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).
Keputusan tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat yang telah lama mengenal rekam jejak pengabdiannya.
Kepercayaan rakyat akhirnya terjawab melalui hasil pemilihan. Pasangan Yota Balad dan Mulyadi berhasil memenangkan kontestasi dengan perolehan 24.961 suara atau 50,48 persen dari total suara sah.
Sejak dilantik Presiden pada 20 Februari 2025, Yota resmi memasuki babak baru pengabdiannya sebagai Wali Kota Pariaman.
Dari ruang Sekretaris Daerah di lantai dua Balai Kota, ia berpindah ke ruang Wali Kota di lantai yang sama. Perjalanan itu menjadi simbol bahwa kegagalan bukanlah akhir dari sebuah cita-cita.
Dengan ketekunan, keberanian, dan ketulusan mengabdi, seorang anak kampung dari Pariaman mampu menorehkan sejarahnya sendiri untuk kampung halaman yang dicintainya.
***Artikel ini dirangkum dari berbagai sumber


Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih