Jangan Setengah Hati! Reaktivasi Kereta Api Padang–Payakumbuh Harus Jadi Prioritas, Bukan Sekadar Wacana

0

 



Oleh : Sutan Darwis


Kemacetan di ruas Padang–Padang Panjang–Bukittinggi semakin hari semakin mengkhawatirkan. Jumlah kendaraan terus bertambah, sementara kapasitas jalan relatif tetap. 


Setiap akhir pekan dan musim liburan, antrean kendaraan mengular hingga berjam-jam. Kondisi ini menjadi bukti bahwa Sumatera Barat sudah tidak bisa lagi hanya mengandalkan transportasi darat berbasis kendaraan pribadi.


Karena itu, rencana reaktivasi jalur kereta api Padang–Payakumbuh harus dipandang sebagai kebutuhan mendesak, bukan sekadar proyek infrastruktur. Kereta api adalah solusi transportasi massal yang telah terbukti efektif di banyak daerah dalam mengurangi kemacetan sekaligus meningkatkan mobilitas masyarakat.


Saat ini, layanan kereta api di Sumatera Barat baru melayani rute Padang–Kayu Tanam dan Padang–Naras, Pariaman. Antusiasme masyarakat terhadap layanan tersebut menunjukkan bahwa kereta api masih menjadi moda transportasi yang diminati. Sayangnya, jangkauannya masih terbatas sehingga manfaatnya belum dirasakan oleh masyarakat di kawasan tengah dan utara Sumatera Barat.


Padahal, setiap hari ribuan mahasiswa, karyawan, aparatur sipil negara, pedagang, hingga wisatawan melakukan perjalanan dari Padang menuju Padang Panjang, Bukittinggi, dan Payakumbuh. Mereka terpaksa bergantung pada kendaraan pribadi atau angkutan jalan raya yang semakin padat dan memakan waktu.


Ironisnya, Sumatera Barat pernah memiliki jaringan rel kereta api yang menghubungkan daerah-daerah tersebut. Kini sebagian besar hanya menjadi kenangan. Di saat provinsi lain berlomba membangun transportasi massal modern, Sumatera Barat justru masih berkutat pada wacana menghidupkan kembali jalur yang sudah pernah ada.


Kabar bahwa pemerintah bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) tengah mematangkan reaktivasi jalur hingga Payakumbuh melalui redesain jalur, perhitungan anggaran, serta persiapan sosialisasi pembebasan lahan tentu patut diapresiasi. 


Tahap pertama proyek ini bahkan ditargetkan rampung sebelum tahun 2029. Namun masyarakat tentu berharap proses tersebut tidak kembali berakhir sebagai dokumen perencanaan tanpa realisasi.


Pemerintah harus belajar dari berbagai proyek yang bertahun-tahun hanya menjadi pembahasan. Masyarakat tidak lagi membutuhkan janji atau seremoni. Yang dibutuhkan adalah kepastian pembangunan, target yang jelas, dan pelaksanaan yang konsisten.


Lebih dari sekadar mengangkut penumpang, kereta api akan menjadi penggerak ekonomi baru. Stasiun-stasiun yang kembali hidup akan melahirkan pusat perdagangan, menggerakkan UMKM, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan nilai ekonomi kawasan yang selama ini kurang berkembang.


Sektor pariwisata juga akan memperoleh keuntungan besar. Bukittinggi, Padang Panjang, Payakumbuh, Lembah Harau, hingga berbagai destinasi lain akan lebih mudah dijangkau wisatawan. Perjalanan dengan kereta api bahkan dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri karena menawarkan panorama alam Sumatera Barat yang memikat.


Bagi mahasiswa dan para pekerja, kereta api akan menjadi penyelamat dari biaya transportasi yang terus meningkat. Mereka dapat bepergian dengan lebih aman, nyaman, murah, dan tepat waktu tanpa harus menghabiskan waktu berjam-jam di jalan.


Sebagian pihak mungkin beranggapan kehadiran Jalan Tol Padang–Sicincin sudah cukup menjawab persoalan transportasi. Pandangan itu keliru. Jalan tol memang mempercepat perjalanan kendaraan, tetapi tidak mengurangi jumlah kendaraan secara signifikan. Justru transportasi massal seperti kereta api yang mampu memindahkan ribuan orang setiap hari dari jalan raya ke rel.


Sudah saatnya pemerintah berhenti membangun infrastruktur secara parsial. Jalan tol, bandara, pelabuhan, terminal, dan kereta api harus menjadi satu sistem transportasi yang saling terhubung. Tanpa integrasi, kemacetan hanya akan berpindah dari satu titik ke titik lainnya.


Bahkan, pemerintah sudah semestinya berpikir lebih jauh. Jangan berhenti di Payakumbuh. Jalur ini harus dirancang sebagai tulang punggung transportasi Sumatera Barat yang suatu saat dapat terhubung hingga Limapuluh Kota, bahkan menjadi bagian dari jaringan logistik regional yang mempercepat distribusi hasil pertanian, perkebunan, dan UMKM.


Reaktivasi kereta api bukan sekadar membangun rel, tetapi membangun masa depan Sumatera Barat. Ini adalah investasi jangka panjang yang manfaatnya akan dirasakan puluhan tahun ke depan oleh generasi muda, pelaku usaha, dunia pendidikan, dan sektor pariwisata.


Jika pemerintah benar-benar ingin menghadirkan kemajuan yang dirasakan masyarakat, maka proyek reaktivasi jalur kereta api Padang–Payakumbuh harus ditempatkan sebagai prioritas pembangunan. Jangan biarkan proyek ini hanya menjadi wacana yang terus diulang setiap pergantian pemerintahan. Masyarakat menunggu kereta itu kembali melintas, bukan sekadar mendengar bunyi peluitnya dalam pidato dan rencana. (***/)

Posting Komentar

0Komentar

Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top