![]() |
Oleh : Muhammad Zaki Rabbani/Solok
SOLOK — Hari kemerdekaan turut dirayakan dengan meriah oleh masyarakat Solok, Sumatera Barat, melalui pawai alegoris yang sarat makna.
Tidak sekadar menjadi ajang tahunan, kegiatan ini merupakan wujud kebersamaan dalam satu tujuan sekaligus sarana memperkuat ikatan sosial.
Dengan tajuk “Menuju Solok yang Lebih Baik”, tradisi yang dimeriahkan oleh seluruh kalangan masyarakat ini menjadi manifestasi semangat Kota Solok yang kini berpenduduk 82.654 jiwa.
![]() |
![]() |
Dihadiri langsung oleh Wali Kota Solok Ramadani Kirana bersama Wakil Wali Kota, Suryadi Nurdal, Ketua DPRD Fauzi Rusli, serta jajaran pejabat lainnya, pawai yang berlangsung hingga tengah hari tersebut dimulai dan berakhir di Lapangan Merdeka Solok setelah mengitari pusat kota sejauh sekitar 3 kilometer.
Tokoh masyarakat yang mengisi panggung di depan Kantor Bank Nagari, Jalan K.H. Ahmad Dahlan, menyambut penampilan singkat dari setiap kontingen dengan salam dan gestur ramah.
Tidak jarang, atraksi yang disuguhkan masing-masing kontingen mendapat sambutan tepuk tangan meriah dari warga yang memadati kawasan panggung tersebut.
Kilas Perjuangan, Tak Lekang Membakar Semangat
Berhadapan dengan terik matahari tidak mematahkan semangat para peserta. Mulai dari lansia hingga anak-anak sekolah dasar tetap menunjukkan kebersamaan hingga pawai selesai digelar.
Putri, salah seorang siswi SMA, menjadi salah satu peserta yang tampak bersemangat. Dengan bangga, ia mengenakan suntiang, hiasan kepala dalam busana pengantin Minangkabau yang dikenal memiliki bobot cukup berat. Ia menempuh perjalanan dengan senyuman hingga akhirnya tiba di titik perhentian.
Jika ditinjau dari aspek sosiologis, rasa kebersamaan dan apresiasi dari masyarakat dapat menjadi tenaga tambahan bagi setiap individu untuk menghalau rasa lelah.
Menurut penuturan Putri, sambutan masyarakat yang turut tersenyum dan menyapa rombongan membuat usahanya untuk tampil sebaik mungkin terasa terbayarkan.
Selain itu, ia juga menikmati suguhan dan penampilan dari peserta lain yang tidak kalah meriah. Berbagai atraksi tersebut membuat perjalanan yang cukup panjang terasa lebih menyenangkan.
Simbol Kebanggaan Daerah
Mendapat julukan sebagai “Kota Beras” karena menghasilkan beras berkualitas tinggi, Solok tidak hanya dikenal melalui sektor pertaniannya. Kota ini juga memiliki kebudayaan yang religius dengan julukan kebanggaan lainnya, yakni “Kota Serambi Madinah”.
Hal tersebut tercermin dalam berbagai simbol budaya, salah satunya pakaian adat baju kuruang basiba yang memiliki karakter tertutup dan longgar. Selain itu, terdapat pula perangkat tabuah yang dapat ditemui di halaman rumah gadang masyarakat Minangkabau di daerah ini.
Pawai alegori yang juga kerap digelar dalam rangka memperingati hari jadi kota tersebut menjadi ruang refleksi terhadap warisan leluhur sekaligus pemersatu niat dan semangat seluruh elemen masyarakat.
Melalui pertunjukan simbol identitas daerah serta berbagai kesenian yang ditampilkan, masyarakat kembali diingatkan akan jati dirinya sebagai bagian dari bangsa dan negara yang kaya akan keberagaman budaya.
Semangat Nasionalisme dan Ruang Inklusif Masyarakat
Inisiasi pawai alegori ini tentunya tidak terlepas dari semangat nasionalisme yang senantiasa tumbuh di tengah masyarakat Solok.
Letak daerah yang strategis, berada di jalur perlintasan yang menghubungkan sejumlah kota di sekitarnya, menjadikan Kota Solok sebagai daerah yang terbuka terhadap masyarakat dari berbagai latar belakang.
Hal tersebut terlihat dari keikutsertaan sejumlah kontingen yang mewakili masyarakat suku Jawa dan Batak. Mereka turut memeriahkan pawai dengan mengenakan pakaian adat serta menampilkan kesenian dari daerah asal masing-masing.
Semangat inklusivitas juga terlihat dari keterlibatan kontingen penyandang disabilitas yang ditempatkan di barisan depan.
Penempatan tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian agar peserta disabilitas tetap dapat mengikuti pawai dengan nyaman serta meminimalkan kemungkinan terdesak atau terpinggirkan oleh peserta lainnya.
Hal serupa terlihat pada barisan perempuan yang tergabung dalam PKK serta barisan anak-anak yang mewakili gugus sekolah dasar.
Mereka ditempatkan di barisan depan dengan jarak yang lebih renggang sehingga memberikan ruang gerak yang cukup selama mengikuti pawai.
Pada akhirnya, pawai alegori dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ini menjadi penyegar semangat kemerdekaan sekaligus ruang refleksi bagi setiap individu sebagai bagian dari masyarakat luas, tempat ia tumbuh dan berkembang.
Masyarakat Solok membuktikan bahwa melalui partisipasi dan kebersamaan, semangat menuju perubahan yang lebih baik bukan sekadar slogan.
Semangat tersebut dapat diwujudkan melalui keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga persatuan, melestarikan budaya, dan mengisi kemerdekaan dengan karya. (***/)




Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih