Foto Terbaik Iggoy El Fitra Wartawan LKBN ANTARA, Bertema Ritual Tabuik Piaman Dipamerkan di Hamburg, Jerman

Foto Terbaik Iggoy El Fitra Wartawan LKBN ANTARA, Bertema Ritual Tabuik Piaman Dipamerkan di Hamburg, Jerman

Selasa, 06 September 2016, 12.52.00
PARIAMAN - Rangkaian foto bertema 'Ritual Tabuik' karya Iggoy El Fitra, Pewarta foto LKBN ANTARA  wilayah Sumbar, terpilih ikut menyemarakan pameran foto internasional bertajuk 'Suara Pesisir' yang  digelar dalam rangka memeriahkan Pasar Hamburg 2016 yang digelar di Hamburg, Jerman dalam waktu dekat.

Foto karya Iggoy begitu akrap ia disapa, akan tampil bersanding dengan 12 foto cerita lain karya 10  pewarta foto LKBN ANTARA terpilih dari seluruh pelosok Indonesia. Foto-foto yang akan tampil dalam  pameran Pasar Hamburg itu, semuanya bercerita tentang keberagaman budaya pesisir Indonesia.

Editor Foto LKBN ANTARA yang juga koordinator pameran foto Pasar Hamburg, Ismar Patrizki, Minggu (4/9)  mengatakan, 10 pewarta foto LKBN ANTARA yang karyanya akan ikut pameran masing-masing, Andreas Fitri  Atmoko dari Yogyakarta, Iggoy El Fitra dari Sumatera Barat.

Kemudian, I Nyoman Budhiana dari Bali, Ismar Patrizki dari Jakarta, Muhammad Adimaja dari Jakarta,  Rosa Panggabean dari Jakarta, Sigit Kurniawan dari Jakarta, Wahyu Putro A dari Jakarta, Zabur Karuru  dari Surabaya dan Moh Risyal Hidayat dari Jawa Timur.

Dikatakan, dari 10 pewarta foto akan tersaji 13 rangkaian foto seri yang semuanya bercerita tentang  pesona keindahan alam dan berbagai prosesi budaya masyarakat pesisir Indonesia yang menawan. Rangkaian  foto juga bercerita tentang problematika masalah pesisir yang sedang hangat dibicarakan.

"Melalui pameran foto bertema 'Suara Pesisir' ini, kita ingin hadirkan sekelumit gambaran dan cerita  tentang pesisir Indonesia kepada khalayak yang hadir di pagelaran Pasar Hamburg 2016. Setidaknya, kita  ingin tunjukan kepada pengunjung Pasar Hamburg, inilah pesisir Indonesia," kata Ismar Patrizki.

Ismar menuturkan, sebagai negeri maritim yang notabene negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih  dari 17.000 pulau tersebar di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, tak dapat dipungkiri bahwa  sebagian besar rakyat Indonesia menggantungkan hidup dari laut.

Bermacam hasil sumber daya alam menjadi penghidupan di negeri yang 70 persen luas wilayahnya merupakan  lautan ini. Mereka yang menggantungkan hidup dari laut mendiami sebagian dari 81.000 kilometer wilayah  garis pesisir Indonesia.

Dengan lebih dari 17.000 pulau, lebih dari 258 juta penduduk dan sekitar 1.340 suku atau kelompok  etnik, Indonesia menjelma sebagai negeri heterogen yang sangat kaya akan ragam budaya dan bentang  alam, termasuk keberagaman di wilayah pesisir.

"Dalam keberagaman itu, tentunya ada banyak kisah menyeruak dari negeri para pelaut ini. Cerita  tentang pesisir tempat tinggal sang pelaut, nenek moyang orang Indonesia. Inilah yang sebagian coba  kami tuangkan dalam pameran foto bertajuk Suara Pesisir di Hamburg dalam waktu dekat," kata dia.

Sementara, Pewarta Foto LKBN ANTARA wilayah Sumbar, Iggoy El Fitra mengatakan, karya foto cerita hasil  bidikannya bertema Ritual Tabuik menggambarkan rangkaian prosesi yang menukilkan sejarah Tabuik hingga  menjadi Pesta Budaya di Pariaman.

Iggoy mengatakan, imaji-imaji yang kemudian disusun menjadi rangkaian foto Ritual Tabuik, dibuat dalam  rentang waktu beberapa tahun. Foto-foto itu dihasilkan dari beberapa pelaksanaan Pesta Budaya Tabuik.  Terhitung Iggoy rutin memotret Pesta Budaya Tabuik sejak 2008 hingga terakhir 2015.

Dijelaskan, Pesta Budaya Tabuik Pariaman, pelaksanaan prosesi ritualnya dilaksanakan hampir 10 hari  lamanya. Ada ritual yang dilaksanakan siang, ada yang malam hari. Bahkan ada ritualnya yang  dilaksanakan dalam sehari penuh. 

Karena berbagai keterbatasan, kadang dalam sekali pelaksanaan Pesta Tabuik, tak semua rangkaian ritual  bisa dipotret. Akhirnya terpaksa menunggu tahun berikutnya untuk bisa mengulangi memotret rangkaian  ritual yang tak sempat diambil tahun sebelumnya. Begitu tantangan memotret Tabuik, katanya.

"Begitu saya mengakali memotret rangkaian Ritual Tabuik selama hampir enam tahun lamanya. Saya mulai  memotret Ritual Tabuik tahun 2008 dan terus berlanjut sampai terakhir 2015. Tahun 2009, karena suasana  duka akibat gempa bumi, Pesta Tabuik urung digelar, jadinya saya tak memotret," cerita Iggoy.

(TIM)

TerPopuler