Kisah Nenek Renta Andam Dewi, Yang Hidup Sebatang Kara di Dusun Kajai Koto Marapak Pariaman

Kisah Nenek Renta Andam Dewi, Yang Hidup Sebatang Kara di Dusun Kajai Koto Marapak Pariaman

Rabu, 07 Maret 2018, 20.12.00
Bhabinkamtibmas Desa Koto Marapak, Kecamatan Pariaman Timur, Subur Prayitno ketika turun kelapangan bersama awak media. Rabu, 07/03/2018
Pariaman, BANGUNPIAMAN.COM- Semua orang pasti mengidamkan saat senja menghampiri dirinya. Terbisik dalam pikiran kepada seluruh anak-anak yang sudah dibesarkan semenjak kecil bisa mengabdikan dirinya buat menjaga kedua orang tua yang rela berkorban nyawa demi sibuah hati.

Namun, realita ini berbeda jauh yang dirasakan Andam Dewi (96 tahun) nenek yang hampir 36 tahun hidup sebatang kara dikediamanya, tanpa ditemani anak-anaknya yang sibuk dengan rutinitas sendiri. Potret nenek yang menjalani usia senja tampa dampingan dari anaknya ternyata ada di Dusun Kajai, Desa Koto Marapak, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman.

Ironisnya memang, Andam Dewi seorang nenek yang sering dipanggil Manih, hidup dirumah reot tidak layak huni tanpa lampu penerangan dan listrik, serta jamban dan saluran air bersih.

Untuk mendapatkan air mandi dan air minum, Manih terpaksa harus berjalan kaki 300 meter hingga 500 meter ke rumah tetangga. Kondisi fisik yang lemah dan rentan membuat wanita tua itu sering terjatuh dan cidera pada kaki dan tangannya ditambah jalan yang ditempuh masih tanah tampa tersentuh aspal maupun rabat beton.

Akibat gempa 2009, Rumah manih hancur tampa ada lagi tempat bermungkimnya. Setelah  mendapatkan bantuan rumah hunyian sementara (huntara) dari organisasi internasional paska gempa.  Akibat kondisi perekonomian kurang bagus, berakibat Nilai rupiah didapat belum memadai, sehingga kondisi rumah masih terbangkalai. Sementara itu, Suami Manih meninggal sejak 1966 lalu, dan melahirkan empat orang anak (perempuan dua dan laki-laki berdua)

Nenek Renta Andam Dewi Dengan Latar Belakang Rumahnya Yang Tidakl Layak Hunyi ( Fhoto : HERI MARTONI)

Namun malang yang didapat anak perempuannya meninggal akibat penyakit campak saat masih berusia belia. Kini, Manih memiliki seorang anak laki-laki, satu-satu orang yang masih peduli dan selalu mengurus kebutuhan dan kehidupannya.

Yakni Herman (65 tahun). Meski keterbatasan biaya atau kehidupan miskin, tidak menyurutkan Herman berbakti kepada Sang Ibu. Kendala dihadapi, Herman yang juga telah berkeluarga (memiliki seorang istri, empat orang anak dan dua orang cucu). Untuk membantu sang ibu, Herman harus pintar-pintar membagi waktu sambil bekerja. Kebetulan pekerjaan sehari-hari berladang tidak jauh dari rumah ibunya, Andam Dewi.

Beginilah Isi Rumah Nenek Andam Dewi ( Fhoto : HERI MARTONI)


Sementara itu, Bripka Subur Prayitno, Bhabinkamtipmas Desa Koto Marapak, orang pertama yang menemui lansung keberadaan wanita rentan itu saat melakukan jalan-jalan sore diwilayah kerjanya.

Ia menjelaskan, pertama kali berjumpa dengan Manih sekitar satu bulan yang lalu. Saat sang nenek hendak ke kedai meminta sesuatu yang bisa dimakan. Prihatin dan merasa terpanggil untuk membantu Andam Dewi hingga sempai ke rumahnya. Melihat kondisi rumah yang sangat memprihatinkan, petugas polisi masyarakat tersebut mencoba ekpos melalui media sosial, dengan tujuan mendapatkan perhatian berupa panggilan sisi kemanusiaan publik. " Alhamdulilah niat untuk memberi tahu, bisa tersampaikan sehingga hari ini seluruh media cetak maupun elektronik bisa mengetahui persis bagaimana realita yang dihadapi nenek, Andam dewi,"imbuhnya

Kepada Desa Koto Marapak, Yuhaldi mengatakan, tahun 2018 ini telah dianggarkan tower air seperti program Pamsimas. "Desa Koto Marapak memang daerah rawan krisis air minum, lokasi perbukitan dan jauh dari sumber aliran sungai,"jelasnya. Oleh sebab itu, pemerintahan desa bersama masyarakat harus segera memiliki aliran air minum dari rumah ke rumah, termasuk diprioritaskan ke rumah Buk Manih.
"Saat ini, alhamdulilah ibu Andam Dewi sudah mendapatkan Beras Raskin dan Jkn atau Jaminan Kesehatan Nasional" tuturnya. HERI MARTONI


TerPopuler