Masjid Sejarah Batang Paman Berusia 300 Tahun, Kini Kondisinya Memprihatinkan -->

Masjid Sejarah Batang Paman Berusia 300 Tahun, Kini Kondisinya Memprihatinkan

Minggu, 04 Maret 2018, 18.31.00
Mesjid Sejarah  Batang Paman Terlihat Memprihatinkan Terletak di Korong Koto Tinggi, Berdekatan Lansung Dengan Korong Patamuan, Nagari Gunung Padang Alai Kecamatan V Koto Timur Kabupaten Padang Pariaman ( Fhoto : HERI ).
Padang Alai,BANGUNPIAMAN.COM--Jika dilihat dari luarnya, bangunan tua yang tinggi menjulang kelangit itu kita akan terhenyak dengan kebesaran Allah.  Dengan kuasaNya, Mesjid Batang Paman masih  bisa berdiri megah dari dulu hingga sekarang walaupun dinding sedikit berlobang dan atap sudah mulai bocor serta lantainya sudah mulai rapuh akibat air hujan lansung menembua lantai kayu.

kabarnya, pembuatan surau tuo tersebut berkat swadaya dan gotong royong sejumlah element serta tokoh masyarakat dan niniak mamak ikut serta dalam membangun  pada waktu itu. Mesjid Batang Paman sudah  berumur tiga ratus tahun lebih semenjak 1800 M berdirinya yang terletak di Korong Koto Tinggi berdekatan lansung dengan Korong Patamuan , Nagari Gunuang Padang Alai, Kec V Koto Timur, Padang Padang Pariaman.

" Dengan bangunan terbuat dari bahan kayu seutuhnya mulai dari jenjang hingga dindingnya tampa ada pakai paku besi, sepaku untuk memasangkan antara kayu dengan kayu lainya. Setelah diperhatikan, ternyata untuk memasangkan bangunan surau hanya memakai sistem pahat ( alat tukang lama) serta memasukan ke kayu yang telah dilubangi untuk dipasangkan menjadi sebuah bangunan seutuhnya.

Tempat Ibadah Islam ini memiliki ketinggian sekitar 50 m, dari 30 tiang berdiri kokoh seakan siap menemani bangunan tua tersebut walau gempa ikut menguncang sekaligus. Sehingga Surau Tuo yang ada di Batang Paman  memiliki cerita serta ke unikan tersendiri " terang Tk. Basa Tayuang ( 90 tahun) pemuka agama yang didampingi Hosen (58 tahun) Kapalo Mudo Koto Tinggi Saat berbincang-bincang kecil bersama di salah satu warung yang ada di kampung tersebut. Minggu, 4/2/2018.

Kembali menguraikan, untuk mengambil macu ( tiang utama) Surau Batang Paman konon Historisnya menghabiskan waktu selama berbulan-bulan karena jarak tempuh untuk proses eksekusinya sekitar puluhan kilo dari lokasi surau yakni diambil di kaki gunuang tigo ( lokasi longsor gempa 2009) dengan cara berjalan kaki dari swadaya masyarakat untuk menempuh hingga sampai ke lokasi tujuan. Sedangkan untuk siap seutuhnya menghabiskan waktu selama bertahun-tahun karena seluruhnya memakai alat tradisional. Terangnya

Ditambah,  saat  itu belum ada alat berat (Eskavator)  yang  bisa membantu masyarakat dalam proses pengakatan serta meletakan bahan kayu untuk pembuatanya.

Iai menjelaskan, pendiri Mesjid batang Paman dahulunya oleh Syekh Ungku V Koto pada waktu itu oleh  seorang Ulama besar yang telah dipercaya untuk mengembagkan dan mempertahankan Islam pada waktu itu sekitar tahun 1800 M silam.

" Dahulunya Mesjid  Batang Paman dipungsikan masyarakat setempat untuk melaksanakan sholat Jumat saja. Sementara Akses jalan yang masih tanah  menjadi faktor utama, jarang di fungsikan untuk kegiatan ibadah,"ungkapnya

Sementara itu, Hendra Amir tokoh muda di korong koto tinggi berharap Mesjid Batang Paman  mendapat sentuhan dari pemerintah melalui benda cagar budaya. Agar Masyarakat sekitar bisa melakuka sholat berjamaah kembali.

" Cerita dahulunya, jika jika ada tokoh agama tidak sholat jumat didenda dengan  menyemblih kambing satu ekor sebagai permintaan maaf kepada sang khalik dan kepada masyarakat. Namun, saat ini mesjid sejarah yang berusia ratusan tahun ini tidak berpungsi lagi akibat sudah tidak ada perhatian dari pihak terkait tentang benda tua" tuturnya. LAPORAN --- HERI MARTONI

TerPopuler