Puluhan Mahasiswa Pasbar Yang Tergabung Kedalam AMPUN PASBAR, Tuntut Pengoperasian RSUD Pratama Ujung Gading -->

Puluhan Mahasiswa Pasbar Yang Tergabung Kedalam AMPUN PASBAR, Tuntut Pengoperasian RSUD Pratama Ujung Gading

Kamis, 23 Juli 2020, 18.38.00
Mahasiswa Menyampaikan Tuntutannya Untuk Pengoperasian RSUD Pratama Ujuang Gading. Fhoto : Robi Irwan

PASAMAN BARAT--- Puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi mahasiswa Peduli Uang Negara Pasaman Barat (Ampun Pasbar), Sumatera Barat menuntut pengoperasionalan Rumah Sakit Umum Daerah Pratama Ujung Gading dan memberhentikan Kepala Dinas Kesehatan.

Tuntutan itu disampaikan saat aksi demonstrasi di halaman kantor bupati pada Kamis (23/7/2020)

Orator demonstrasi Warham Eka Putra saat demonstrasi mengatakan masyarakat Ujung Gading sangat membutuhkan pengoperasional RSUD Pratama Ujung Gading segera mungkin.

Sebab, jika berobat ke RSUD Jambak  memakan waktu sekitar dua jam dan menambah biaya berobat.

"Bangunan RSUD Pratama Ujung Gading sudah siap. RSUD dijanjikan beroperasi tahun 2019. Sampai saat hari ini tidak beroperasi. Ada apa dengan ini," katanya.

Apalagi ada kejadian beberapa waktu lalu seorang ibu setelah melahirkan meninggal dunia dalam perjalanan menuju RSUD Jambak. Diduga karena memakan waktu yang sangat lama maka ibu itu meninggal dunia.

"Sangat disesalkan kenapa bangunan RSUD Pratama belum beroperasi. Kasihan kita masyarakat dan telah memakan korban," ujarnya.

Bahkan sekitar Rp43 miliar anggaran telah digunakan untuk pembangunan RSUD Ujung Gading itu.

"Kalau memang Pemkab Pasaman Barat peduli kemasyarakat segera operasikan rumah sakit itu," katanya.

Terkait Kepala Dinas Kesehatan mahasiswa menilai tidak mampu mengemban amanah untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di Pasaman Barat.

"Berhentikan Kepala Dinas Kesehatan. Ketika nyawa ibu-ibu melayang, kepala dinas menghilang," tegasnya.

Pihaknya juga menyayangkan kondisi bangunan RSUD itu yang memprihatinkan. Lantai bangunan turun dan banyak atap yang bocor.

Usai menyampaikan aspirasi, mahasiswa meminta Bupati Pasaman Barat Yulianto menandatangani dua keaepakatan itu yakni kapan pastinya operasional RSUD Ujung Gading dan berhentikan Kepala Dinas Kesehatan.

Namun Bupati Pasaman Barat tidak bersedia menandatangani kehendak mahasiswa.

"Kami ingin hitam di atas putih. Kami sudah bosan dengan janji-janji. Jika tidak bersedia maka kami akan kembali demonstrasi dengan masa yang lebih banyak," tegasnya.

Bupati Pasaman Barat Yulianto mendukung keinginan mahasiswa agar RSUD Pratama Ujung Gading segera beroperasi.

"Saya berpihak kemasyarakat. Upaya percepatan pengoperasionalan RSUD Ujung Gading terus kami lakukukan," tegasnya.

Menurutnya dengan keluarnya aturan baru Peraturan Kementrian Kesehatan tahun 2020 ini ada satu syarat yang harus dilengkapi yakni harus ada sertifikat layak fungsi dari tim ahli bangunan.

"Tim ahli itu tidak ada di Pasaman Barat. Kami telah menyurati Gubernur Sumbar pada 16 Juli 2020 agar menurukan tim ahli untuk memastikan rumah sakit itu bisa beroperasi. Kita masih menunggu tim ahli itu dari provinsi," ujarnya.

Selain menunggu sertifikat layak fungsi itu, juga pemenuhan ruangan dan persyaratan admimistrasi lainnya.

"Saya perintahkan kepada Dinas Kesehatan segera membuat langkah kongkrit percepatan pengoperasionalan RSUD Ujung Gading dan berkoordinasi dengan instansi terkait," sebutnya.

Pihaknya berkomitmen untuk mempercepat operasional RSUD Ujung Gading sehingga masyarakat bagian utara Pasaman Barat tidak jauh-jauh berobat ke Simpang Empat.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Pasaman Barat Jon Hardi menjelaskan pihaknya telah melakukan langkah-langkah percepatan dalam upaya pengoperasionalan RSUD Ujung Gading.

"Sejak 2019 kita telah melakukan upaya percepatan. Termasuk mengurus serifikat kelayakan fungsi dari tim ahli bangujan sesuai Permenkes tahun 2020," sebutnya.

Ia meyakini jika persyaratan itu sudah selesai maka kemungkinan RSUD Ujung Gading akan beroperasi pada 2021.

Selama aksi demonstrasi berlangsung berjalan aman dengan pengawalan ketat dari pihak kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja.

Saat aksi itu mahasiswa membawa berbagai atribut spanduk dan peraga keranda mayat.

(Robi Irwan)

TerPopuler