Tradisi Pepaosan Pada Masyarakat Sasak

Fauziah Nur Hikmah/Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas


Foto : Panca Andalas


Artikel ini merujuk kepada artikel yang ditulis oleh Jamaluddin peneliti naskah dari UIN Mataram yang berjudul “kerajaan perkembangan peradaban islam telaah terhadap peran istana dalam tradisi pernaskahan di Lombok.

Secara umum artikel yang ditulis oleh Jamaluddin ini mengungkap bagaimana sejarah penggunaan beragam bahasa dalam naskah-naskah Sasak yang ada di Lombok, dalam hal ini akan melihat lebih jauh hubungan kerajaan yang ada di Lombok dengan daerah-daerah lain yang bahasanya digunakan dalam penulisan naskah-naskah Sasak; dan bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga banyaknya naskah-naskah yang tersebar dalam masyarakat. 

Namun pada artikel kali ini saya akan mengkaji secara khusus mengenai tradisi pepaosan. Pepaosan sendiri yaitu tradisi membaca naskah pusaka atau naskah lontar yang dilakukan oleh masyaakat dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. 

Secara umum pepaosan adalah pembacaan naskah lontar. Makna harafiah pepaosan berarti membaca.  Pembacaan naskah pada pepaosan dilakukan dengan nyayian atau irama-irama ataupun dengan lagu (ditembangkan). 

Kata-kata yang dilantunkan pada tradisi pepaosan ini disusun dengan kata-kata yang indah saat nantinya akan ditembangkan. Menurut artikel yang ditulis oleh Jamaluddin ditemukan ada 6 tembang yang cukup populer yaitu Durma, Sinom, Smarandana, Pangkur, Dangdang (Dangdang Gula), dan Mas Kumambang. 

Namun demikian dalam membaca kitab Serat Menak (Jawa) mengenal pula tembang-tembang seperti Kinanti, Girisa, dan Pucung. Biasanya tradisi Pepaosan dilakukan pada acara-acara adat seperti pernikahan atau perkawinan, khitanan, ritual menanam padi, potong rambut bayi, sedekah laut, sedekah bumi, upacaratolak bala, bersuh desa, penurunan bibit padi, dan upacara kematian. 

Naskah yang dibacakan pada tradisi pepaosan ditulis dengan huruf Jawa kuno yang mendarah daging bagi masyarakat Lombok. Lontar yang ditulis pada potongan daun ini merupakan warisan dari nenek moyang yang sangat dihargai oleh suku Sasak. 

Tradisi menulis di atas daun lontar diperkirakan berasal dari tradisi yang ada di Jawa dan Bali. Tradisi membaca Pepaosan ini biasanya dimulai pada malam hari dan berakhir pada pagi hari, yang dibacakan di atas bale- bale. 

Dikutip dari 1001indonesia.net Jumlah orang yang akan tampil biasanya berjumlah 4 orang laki-laki dengan pakaian adat Jawa dalam tradisi pembacaam naskah kuno ini. Keempat orang itu terdiri atas seorang pemaos (penembang) yang membaca lontar beraksara Sasak berbahasa Jawa, seorang pujangga (penerjemah) dan dua orang pendukung. Penampilan mereka dilengkapi dengan sesajen yang ditempatkan dalam sebuah wadah khusus dari kuningan. 

Dikuti dari jurnal yang ditulis oleh dosen program studi pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Mataram, ada beberapa tahapan dalam melaksanakan ritual pepaosan yaitu pada prapembaca perlu dipersiapkan air kum-kuman, yaitu air yang diletakkan dalam wadah tembaga atau kuningan yang di dalamnya juga terdapat bunga rampe. 

Selain itu, dalam prapembacaan takepan disiapkan andang-andang atau yang biasa disebut dengan dedungki atau sok-sokan yang di dalamnya berisi beras, kapur sirih, pinang, dan benang setukel, serta sejumlah uang. 

Kemudian air kum-kuman yang sudah disiapkan diletakkan di depanpemaos atau pembaca naskah. Fungsi dari air kum-kuman yaitu sebagai penerang ketika ada huruf yang tidak terbaca oleh pemaos. 

Caranya yaitu dengan mengusapkan bunga yang berada di dalam air dan dioleskan ke aksara yang tidak terbaca.Setelah pembacaan takepan selesai, penamat yang sudah disiapkan sebelumnya disajikan. 

Penamat biasanya berisi aneka jajanan khas Sasak misalnya renggi, ketan yang dibungkus dengan daun, dan buah-buahan yang akan dimakan bersama setelah pepaosantakepan selesai. Selain itu, ada juga mantra yang harus dibacakan. 

Rangkaian ritual di atas harus dilaksanakan sesuai dengan aturan karena mitosnya, apabila semua ritual dan sesaji tidak dipenuhi, akan terjadi malapetaka bagi orang yang membacanya. Misalnya, pembacaan takepan dalam acara pernikahan, maka pasangan tersebut bisa saja bercerai bahkan bisa berujung pada kematian.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat sasak sudah berkembang sejak zaman dahulu dari segi intelektualnya. Mereka sudah mengenal baca tulis dan juga mereka bisa membuat naskah-naskah dari daun lontar yang bersangkutan dengan kehidupan sehari-sehari dimana mereka bisa menemukan pengobatan bagi masyarakatnya contoh Kawitan Selandir (lontar), dibacakan untuk anak yang belum dapat berjalan. 

Indar Jaya (lontar) dibacakan untuk anak yang sulit berbicara. Indrabangsawan (Jawi) untuk anak yang dungu, dan yang lainnya di mana hal ini kadang hanya berbentuk kepercayaan satu kelompok masyarakat atau komunitas tertentu. Itulah mengapa jika setiap rumah di suku Sasak pasti terdapat naskah-naskah tua yang disimpan oleh masyarakat sekitar. Pernaskahan pada suku sasak bisa dibilang sudah sangat maju. (***/)

Tidak ada komentar

Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih

Diberdayakan oleh Blogger.