Ketika Takut Ketinggalan Menjadi Gaya Hidup: FOMO di Kalangan Generasi Z

0

Oleh : Davin Ardra, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas


Sumber gambar ini copas by google image


Di era digital yang serba cepat dan saling terhubung, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) menjadi salah satu isu psikologis yang semakin nyata, khususnya di kalangan Generasi Z. 


FOMO merujuk pada perasaan cemas yang muncul ketika seseorang merasa tertinggal dari pengalaman, informasi, atau pencapaian yang dimiliki orang lain. 


Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah gempuran teknologi digital menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap fenomena ini, terutama karena mereka hidup dalam ekosistem media sosial yang cepat, visual, dan sarat akan perbandingan sosial.


Setiap kali membuka media sosial seperti Instagram dan TikTok, pengguna kerap disuguhkan berbagai konten yang menampilkan momen liburan, karya kreatif, hingga pencapaian personal. 


Di tengah rasa kagum terhadap kualitas visual dan estetika yang ditampilkan, sering kali muncul pertanyaan reflektif seperti, “Apa yang sedang aku lewatkan?” atau “Mengapa aku belum sampai di tahap itu?”. 


Perasaan semacam ini menjadi bibit awal munculnya FOMO, yaitu ketakutan akan tertinggal dari sesuatu yang tampak lebih menarik dalam kehidupan orang lain.


Padahal, realitas yang ditampilkan di media sosial tidak selalu mencerminkan kehidupan yang sesungguhnya. 


Banyak momen yang telah dikurasi, direkayasa, atau diseleksi sedemikian rupa agar tampak sempurna. 


Meski demikian, hal tersebut tidak serta-merta mengurangi dampak psikologis dari paparan konten semacam ini. FOMO mendorong individu untuk terus aktif, kreatif, dan “terlihat” agar tidak tertinggal dari tren atau hilang dari radar sosial. 


Tekanan tersebut, dalam banyak kasus, justru memicu kelelahan mental dan emosional.


Fenomena FOMO juga berpengaruh signifikan terhadap gaya hidup Generasi Z. Dorongan untuk membeli gawai terbaru, kamera baru, mengunjungi tempat nongkrong yang estetik, atau mengikuti tren konten viral sering kali dilakukan bukan atas dasar kebutuhan atau kreativitas, melainkan demi eksistensi sosial. 


Akibatnya, perilaku konsumtif semakin menguat dan muncul perasaan tidak pernah merasa cukup. Validasi sosial berupa jumlah like, view, dan followers pun kerap dijadikan tolok ukur pencapaian diri yang menyesatkan.


Namun demikian, FOMO sejatinya dapat dikelola dengan pendekatan yang tepat. Sebagai Generasi Z, khususnya yang berkecimpung dalam bidang media dan komunikasi, penting untuk memiliki kepekaan terhadap bagaimana media memengaruhi pola pikir dan perilaku. 


Melalui literasi media, individu dapat memfilter konten mana yang bersifat inspiratif dan mendorong perkembangan diri, serta mana yang justru memicu kecemasan dan tekanan psikologis. 


Tantangan utamanya terletak pada kemampuan memilah antara dorongan yang sehat dan tekanan yang merugikan.


Peran keluarga, institusi pendidikan, dan komunitas juga sangat penting dalam membangun kesadaran terhadap dampak FOMO. 


Generasi muda perlu didorong untuk membentuk identitas diri yang kuat dan tidak semata-mata bergantung pada validasi sosial di ruang digital. 


Dengan fondasi tersebut, mereka dapat menikmati kehidupan secara lebih autentik, seimbang, dan bermakna tanpa harus terus-menerus mengejar apa yang dilakukan orang lain.


Fenomena FOMO mencerminkan dinamika kehidupan sosial modern yang dipenuhi ekspektasi dan perbandingan. 


Jika tidak dihadapi dengan kesadaran dan pengelolaan yang tepat, FOMO berpotensi menjadi jebakan emosional yang mengganggu kualitas hidup. 


Namun, dengan pendekatan yang bijak, FOMO justru dapat dijadikan titik tolak untuk mendorong Generasi Z hidup lebih sadar, terhubung secara sehat, dan tetap berpijak pada realitas. (**/)

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top