![]() |
JAKARTA – Tiga wali kota dan tujuh bupati dari berbagai daerah di Indonesia berhasil mempertahankan proposal kebudayaan mereka di hadapan Dewan Juri Anugerah Kebudayaan (AK) PWI Pusat, Jumat (9/1/2026).
Sebagian kepala daerah mempresentasikan proposal secara daring. Hal itu dilakukan karena sejumlah alasan mendesak, mulai dari duka keluarga, keterlibatan langsung dalam penanganan bencana alam di Sumatera, hingga kehadiran pada agenda adat di daerah masing-masing.
Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, mengatakan para kepala daerah tersebut dinilai layak menerima Trofi Abyakta yang akan diserahkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten, 9 Februari 2026 mendatang.
“Mereka berhak menerima Trofi Abyakta atas komitmen dan keberhasilan mengangkat serta merawat kebudayaan di daerahnya masing-masing,” ujar Yusuf.
Selain kepala daerah, AK PWI Pusat 2026 juga memberikan penghargaan kepada tiga wartawan senior bersama komunitas kebudayaan yang mereka bina. Mereka adalah Rahmi Hidayati (mantan wartawan Bisnis Indonesia) dengan komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI), Seno Joko Suyono (mantan wartawan Tempo) dengan Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF), serta Nenri Nurcahyo (mantan wartawan Surabaya Post) bersama komunitas Panji.
Yusuf menjelaskan, tahun ini AK PWI Pusat menambah satu kategori baru, yakni wartawan dengan komunitas kebudayaannya. Sebelumnya, penghargaan ini hanya diberikan kepada kepala daerah.
“AK PWI Pusat telah berlangsung sejak HPN 2016 di Lombok, NTB, dan terus berlanjut di sejumlah daerah, antara lain Banjarmasin (2020), Jakarta (2021), Kendari (2022), dan Medan (2023),” jelasnya.
Beragam gagasan kebudayaan ditampilkan para penerima penghargaan. Wali Kota Malang, Jawa Timur, Wahyu Hidayat, mengangkat Malang sebagai kota kreatif yang sejajar dengan 59 kota dunia versi UNESCO. Bupati Temanggung, Jawa Tengah, Agus Setyawan, menampilkan kiprah kesenian Kuda Lumping Temanggung yang berupaya menembus panggung internasional.
Sementara itu, Wali Kota Mataram, NTB, H. Mohan Roliskana, mengusung Gerbang Sangkareang sebagai landmark dan sumber inspirasi baru kota. Wali Kota Samarinda, Kalimantan Timur, H. Andi Harun, mengangkat sarung tenun lokal sebagai wastra menuju pusaka nasional.
Dari Indonesia timur, Bupati Manggarai, NTT, Heribertus Geradus Laju Nabit, mempresentasikan program revitalisasi Mbaru Gendang (rumah adat) berbasis gotong royong pemerintah dan masyarakat. Bupati Manokwari, Papua Barat, Hermus Indou, menonjolkan Festival Teluk Borere sebagai penguat harmoni sosial dan toleransi di Papua.
Adapun Bupati Blora, Jawa Tengah, H. Arief Rohman, mengangkat aktualisasi ajaran Samin sebagai spirit pembangunan berkelanjutan. Bupati Lampung Utara, Hamartoni Ahadis, menampilkan tradisi Cangget Bakha sebagai ruang pertemuan generasi muda. Bupati Labuhanbatu, Sumatera Utara, Hj. Maya Hasmita, mengusung Gema Sahabat (Gerakan Empati Masyarakat) untuk penguatan karakter dan budaya sejak dini.
Sementara itu, Bupati Padang Pariaman, Sumatera Barat, H. John Kenedy Azis, mempresentasikan revitalisasi tradisi religius melalui wajah baru Maulik Gadang sebagai upaya pelestarian budaya berbasis nilai keagamaan. (*)


Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih