Festival Qasidah Rebana Klasik Bangkitkan Warisan Budaya, 84 SD/MI se-Sumbar Siap Berlaga di Pariaman

0

 


PARIAMAN,– Festival Qasidah Rebana Klasik, salah satu seni tradisional khas Kota Pariaman, kini kembali dihidupkan setelah sempat mulai terlupakan. Kegiatan ini menjadi langkah nyata untuk menjaga sekaligus melestarikan warisan budaya Islam yang sarat nilai seni, religi, dan kebersamaan.


Upaya pelestarian tersebut digagas Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SD se-Kecamatan Pariaman Selatan dengan dukungan penuh dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) serta Pemerintah Kota Pariaman. Festival ini diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai kembali kesenian rebana klasik.


Sebagai bagian dari persiapan, panitia menggelar Technical Meeting (TM) pada Kamis (5/2/2026) di balairung Rumah Dinas Wakil Wali Kota Pariaman. Kegiatan tersebut dihadiri K3S Pariaman Selatan, guru pendamping, serta perwakilan peserta lomba.


Acara dibuka langsung oleh Kepala Disdikpora Kota Pariaman, Hertati Taher. Dalam laporan ketua pelaksana, Afdhal Fuady, disebutkan bahwa festival ini diikuti 84 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah dari berbagai daerah di Sumatera Barat, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap kebangkitan seni rebana klasik.


Dalam sambutannya, Hertati Taher menyampaikan apresiasi atas inisiatif para kepala sekolah dan guru yang telah berperan aktif menghidupkan kembali tradisi lokal. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar lomba, melainkan sarana pendidikan karakter, penanaman nilai religius, serta pengembangan bakat seni siswa.


Ia juga membawa kabar gembira bahwa Festival Qasidah Rebana Klasik akan dijadikan agenda tahunan. Pemerintah Kota Pariaman, lanjutnya, telah mengalokasikan anggaran pengembangan minat dan bakat di setiap kecamatan sebesar Rp25 juta sebagai bentuk dukungan nyata.


“Kami berharap kegiatan ini berjalan lancar dan mampu memotivasi guru serta murid untuk terus berkarya dan berprestasi di bidang seni budaya,” ujarnya.


Panitia juga menekankan pentingnya evaluasi setelah pelaksanaan festival, guna memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan di tahun-tahun mendatang.


Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan teknis pelaksanaan lomba oleh Sekretaris Panitia, Dedi Patra, yang menjelaskan aturan, kriteria penilaian, serta jadwal pertandingan agar seluruh peserta memiliki pemahaman yang sama.


Melalui festival ini, Qasidah Rebana Klasik diharapkan tidak lagi sekadar kenangan, melainkan kembali hidup sebagai kebanggaan budaya Pariaman dan identitas generasi muda. (**/R)

Posting Komentar

0Komentar

Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top