Oleh : Asmaul Husna, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas
![]() |
Bencana alam merupakan peristiwa yang tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi lebih dari itu bencana alam juga meninggalkan dampak sosial dan ekonomi yang berkepanjangan bagi kehidupan masyarakat di wilayah terdampak.
Salah satu bencana yang cukup sering terjadi di wilayah Sumatera Barat adalah galodo, yakni kondisi dimana banjir bandang yang membawa maerial seperti bebatuan, kayu dan lumpur tanah dari daerah hulu ke hilir.
Peristiwa ini umumnya di picu oleh tinnginya curah hujan yang menyebabkan pengkikisan pada tanah di dinding bukit, dan menyebabkan tanah menjadi lunak sehinnga terbawa oleh hujan.
Peristiwa ini biasanya terjadi pada wilayah dengan kondisi geografis yang berbukit dan memiliki aliran sungai yang deras.
Di kabupaten Agam, khususnysa di Jorong Pauh Kecamatan Matur, galodo menjadi salah atu sumber bencana yang memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kehidupan masyarakat.
Tidak hanya merusak infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan fasilitas umum seperti rumah warga, galodo juga mengganggu aktiviitas ekonomi warga yang sebagian besar bergantung pada sektor pertanian dan perdagangan. Kerusakan lahan pertanian membuat semua petani gagal panen pada masa itu.
Menurut keterangan warga sekitar kejadian, beberapa hari sebelum terjadinya bencana galodo, kondisi cuaca dan curah hujan beberapa hari itu sudah tidak menentu, dan menyebabkan warga sekitar selalu waspada melalui himbauan dari Kepala Jorong untuk mengungsi.
Warga selalu berkumpul di tempat yang aman, jauh dari perbukitan dan aliran sungai serta sudah menyediakan bahan pokok pangan masing-masing dirumahnya.
Senin, 26 november 2025 merupakan awal dari terjadinya peristiwa galodo di Jorong Pauh tersebut, setelah sebelumnya di awali dengan curah hujan yang tingi dan kondisi geografis wilayah yang berada di perbukitan, kira-kira pada pukul 23:00 WIB bunyi gemuruh sudah terdengar oleh warga dari atas perbukitan.
Warga berbndong-bodong keluar dan menyelamatkan diri masing-masing dengan pergi ke tempat yang aman, (Samni, 54).
Dampak yang ditimbulkan dari galodo di Jorong Pauh adalah banyakya rumah warga yang tertimbut material galodo, akses jalan dan jembatan putus total, serta rusaknya lahan pertanian yang merupakan mata pencaharian sehari-hari warga sekitar.
Satu minngu setelah kejadian, Desa Jorong Pauh sempat terisolir karena putusnya akses jalan menuju lokasi dan terhambatnya akses untuk penyaluran bantuan berupa bahan pokok makana dan pakaian.
Dan untuk menanggulangi keadaan tersebut, warga harus berjalan kaki sekitar 5-10 kilometer untuk melansir bahan-bahan pokok yang telah dibawa oleh para relawan Jorong Pauh dari Bukittinggi.
Keadaan tersebut terus berjalan setiap harinya, hingga perbaikan jalan dan jembatan selesai untuk menuju ke lokasi tersebut.
Perbaikan jalan dan jembatan segera dilakukan oleh pemerintah setempat untuk dapat mengakses dan melihat langsung keadaan warga sekitar yang terdampak.
Hingga saat ini, bayang-bayang dari peristiwa galodo tersebut masih terasa pada warga sekitar. Setiap kali hujan mulai turun warga kerap kali merasa takut dan trauma atas kejadian yang telah terjadi beberapa bulan yang lalu.
Ada yang sampai sekarang masih trauma jika mendengar suara hujan dan bunyi gemuruh dari benturan bebatuan yang terbawa oleh air dan lumpur.
Seakan-akan kejadian itu masih tersimpan jelas pada ingatan warga bagaimana keadaan yang tidak diinginkan itu datang secara tiba-tiba dan mengakibatkan lumpuhnya segala aktivitas masyarakat setempat.
Dampak paling nyata dari galodo biasanya terlihat pada sektor infrastruktur. Jalan yang menghubungkan antar wilayah terputus akbat terjangan arus yang membawa material besar.
Selain itu fasilitas umum seperti tempat ibadah, sekolah, dan rumah waarga pun juga ikut mengalami gangguan fungsi, baik karena kerusakan langsung maupun karena tertutup lumpur dan material lannya.
Di sisi lain, dampak galodo juga sangat terasa pada sektor perekonomian masyarakat. Sebagian besar masyarakat di Jorong Pauh menggantungkan hidupnya pada sektor pertanosan, seperti perkebunan dan persawahan.
Ketika galodo terjadi, lahan pertanian rusak total dan tertimbun material, sehinnga tidak dapat digunakan untuk sementara waktu. Hal ini secara langsung memengaruhi hasil produksi dan pendapatan masyarakat.
Selain itu, aktifitas perdagangan juga mengalami hambatan akibat rusaknya akses transportasi dan menurunnya daya beli masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa galodo tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi masyarakat secara keseluruhan.
Tidak berhenti pada saat bencana itu terjadi, tetapi harus dirasakan hingga bebrapa waktu setelahnya. Lima bulan pascagalodo,masyarakat Jorong Pauh mulai memasuki fase pemulihan.
Pada tahap ini, berbagai upaya dilakukan untuk memeperbaiki infrastruktur yang rusak serta mengembalikan aktivitas ekonomi seperti sediakala. Namun, proses pemulihan ini tentu tidak berjalan secara cepat.
Banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari keterbatasan sumber daya, kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya stabil, hingga rasa trauma yang masih dirasakan oleh masyarakat.
Di sisi lain, partisipasi masyarakat juga menjadi kunci utama dalam menghadapi bangkit dari bencana. Solodaritas sosial, gotong royong, serta kemampuan untuk beradaptasi menjadi modal penting bagi masyarakat untuk kembali menjalani kehidupan secara normal.
Melihat kompleksitas dampak yang ditimbulkan oleh galodo, penting untuk melakukan kajian yang lebih mendalam mengenai bagaimana bencana ini memengaruhi kehidupan masyarakat, khususnya dalam aspek infrastruktur dan perekonomian.
Kajian ini tidak hanya bertujuan untuk menggambarkan kondisi yang terjadi, tetapi juga untuk memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai tantangan yang dihadapi masyarakat dalam proses pemulihan.
Dengan demikian, diharapkan hasil kajian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam upaya mitigasi bencana serta perancangan pembangunan yang lebih berkelanjutan di masa mendatang.
Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini akan membahas dampak galodo terhadap infrastruktur dan perekonomian masyarakat di Jorong Pauh, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, khususnya dalam kurun waktu lima bulan pascabencana.
Selain itu, artikel ini juga menyoroti berbagai upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan pihak terkait dalam menghadapi serta mengatasi damapk yang ditimbulkan oleh galodo.dengan adanya pembahasan ini, diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai realitas yang dihadapi masyarakat serta mejadi refleksi bersama dalam meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana di masa yang akan datang. (***/)


Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih