![]() |
NAMA Mayor M. Noer Bakapak atau Moehammad Noer merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Kabupaten Padang Pariaman.
Sosok putra asli Nagari Koto Dalam Kecamatan VII Koto Padang Sago ini dikenal bukan hanya sebagai prajurit pejuang kemerdekaan, tetapi juga sebagai pemimpin daerah yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk membangun Padang Pariaman pada masa-masa awal Orde Baru.
Lahir dan besar di Koto Dalam, M. Noer tumbuh pada masa ketika semangat perjuangan bangsa sedang berkobar. Jiwa nasionalisme yang kuat membawanya memilih jalan sebagai seorang prajurit. Baginya, mempertahankan kemerdekaan Indonesia merupakan panggilan hidup yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Saat Agresi Militer Belanda II pada tahun 1947, M. Noer dipercaya menjadi Komandan Kompi Bakapak. Bersama pasukannya, ia ikut mempertahankan wilayah Sumatera Barat dari upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.
Kepemimpinannya di medan perjuangan membuat namanya dikenal sebagai salah satu perwira yang memiliki keberanian dan disiplin tinggi.
Karier militernya terus berkembang. Pada tahun 1959, ia dipercaya menjadi Komandan Batalyon Infanteri 131 Payakumbuh.
Jabatan tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan pimpinan TNI terhadap kemampuan kepemimpinan dan strategi yang dimilikinya.
Lima tahun kemudian, tepatnya pada 1964, M. Noer kembali memperoleh amanah sebagai Komandan Kodim 0308. Dalam posisi itu, ia tidak hanya bertanggung jawab terhadap keamanan wilayah, tetapi juga aktif mendukung berbagai program pembangunan pemerintah di daerah.
Kemampuan kepemimpinan M. Noer membuat pemerintah menunjuknya sebagai Pejabat Sementara (PJS) Bupati Pesisir Selatan pada tahun 1966.
Penugasan tersebut menjadi awal kiprahnya dalam dunia pemerintahan sipil setelah bertahun-tahun mengabdi di lingkungan militer.
Pada tahun yang sama, pemerintah kemudian mempercayakan M. Noer memimpin Kabupaten Padang Pariaman sebagai Bupati ke-11.
Ia memimpin daerah itu selama dua periode, mulai tahun 1966 hingga 1975, menjadikannya salah satu bupati dengan masa jabatan cukup panjang pada era tersebut.
Masa kepemimpinannya berlangsung ketika Indonesia sedang memasuki fase stabilisasi politik dan pembangunan nasional. Sebagai kepala daerah, M. Noer berupaya menerjemahkan program pembangunan pemerintah pusat ke tingkat kabupaten dengan menyesuaikannya pada kebutuhan masyarakat Padang Pariaman.
Salah satu kebijakan yang dikenang pada masa pemerintahannya adalah pemugaran dan revitalisasi Pasar Serikat Pariaman, yang saat itu menjadi pusat perdagangan masyarakat.
Pembenahan fasilitas publik tersebut bertujuan meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus memberikan kenyamanan bagi pedagang dan masyarakat.
Selain pembangunan fisik, M. Noer dikenal sebagai pemimpin yang mengedepankan disiplin, ketegasan, serta semangat gotong royong.
Latar belakang militernya membentuk karakter kepemimpinan yang tegas, namun tetap dekat dengan masyarakat dalam menjalankan roda pemerintahan.
Dalam perjalanan sejarah Kabupaten Padang Pariaman, M. Noer menjadi penghubung penting antara masa pemerintahan sebelumnya yang dipimpin J.B. Adam dan kepemimpinan berikutnya yang dilanjutkan oleh Prof. Drs. Harun Zein serta Muhammad Zein Chatib. Ia memimpin daerah pada masa transisi yang penuh tantangan, baik dari sisi pemerintahan maupun pembangunan.
Pengabdian M. Noer kepada daerah berlangsung hingga akhir hayatnya. Saat masih menjabat sebagai Bupati Padang Pariaman dengan pangkat terakhir Mayor, beliau wafat pada 10 Maret 1975 di RSU M. Jamil Padang.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Padang Pariaman karena terjadi ketika ia masih aktif mengemban amanah sebagai kepala daerah.
Meski dokumentasi mengenai kehidupan pribadi dan riwayat masa mudanya masih sangat terbatas, jejak pengabdiannya tetap tercatat dalam sejarah daerah.
Perjalanan hidupnya menunjukkan bagaimana seorang pejuang kemerdekaan mampu melanjutkan pengabdiannya melalui jalur pemerintahan demi membangun masyarakat.
Kini, nama M. Noer Bakapak layak dikenang sebagai salah satu tokoh yang meletakkan fondasi pembangunan Padang Pariaman pada masa awal Orde Baru.
Semangat patriotisme, integritas, serta dedikasinya menjadi teladan bagi generasi penerus dalam mengabdi kepada bangsa dan daerah.
Sejarah Kabupaten Padang Pariaman tidak hanya dibangun oleh gedung, jalan, atau pasar yang berdiri megah, tetapi juga oleh sosok-sosok seperti Mayor M. Noer Bakapak.
Dari medan perang hingga kursi bupati, ia menunjukkan bahwa pengabdian kepada rakyat adalah tugas mulia yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Hingga kini, namanya tetap menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Padang Pariaman. ( dirangkum dari berbagai sumber)


Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih