“Perang Manunjun Si Batang Panjang, Lahirnya Nagari Katapiang Dan Kepemimpinan Rajo Sampono” - BANGUN PIAMAN.COM : Portal Berita Online

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

Senin, 26 Maret 2018

“Perang Manunjun Si Batang Panjang, Lahirnya Nagari Katapiang Dan Kepemimpinan Rajo Sampono”


Bahrum Rajo Sampono ( Fhoto : Internet)

Pergejolakan dan pertempuran hebat sempat berlangsung beberapa tahun antara Nagari VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman dengan 9 orang Rajo yang dipimpin oleh Mankuto Rajo Sulaiman dari Nagari Panyinggahan, Saniang Baka, Kabupaten Solok. Mereka dengan kesaktiannya berupaya merebut wilayah tiga nagari yakni Nagari Nan Sabaris, Ulakan Tapakis dan Paruangan (Katapiang). 9 orang rajo tersebut diantaranya Mangkuto Rajo Sulaiman, Rajo Basa, Rajo Malako, Rajo Malakewe dan Rajo Batuah.

Sebelumnya, perebutan wilayah antara penduduk asal Rantau Piaman dan Rantau Solok tersebut tepat berada di Bandara Internasional Minangkabau atau BIM di Kecamatan Batang Anai, hingga sampai ke Nagari Gadua, Kecamatan Enam Lingkung.

Daerah tersebut khususnya di Nagari Paruangan (Katapiang) sebelumnya sudah ditempati masyarakat suku Nias yang sempat dibawa oleh tetua adat ninik moyang orang Minangabau terdahulu. Berbagai frase mereka bertahan dan hidup dari generasi ke generasi.

Puncak perebutan wilayah, menurut catatan sejarah Bahrun Rangkayo Rajo Sampono Ke IV, sekitar 1820 salah satu tetua adat yang sudah berada di Nagari Paruangan meminta bantuan kepada Daerah Darek, termasuk beberapa Rajo dari Nagari Panyinggahan, Saniang Baka, Kabupaten Solok, untuk melawan Kekuasaan Rajo-rajo dari VII Koto Sungai Sariak. Dengan kesaktian dari 9 Raja tersebut wilayah tiga Nagari berhasil direbut dan dikuasai.

Setelah berhasil memiliki dan menguasai wilayah, Mangkuto Rajo Sulaiman sebagai Pemimpin Pertempuran dan telah menjadi tetua Adat, melakukan pembagian wilayah secara merata kepada para tokoh-tokoh pertempuran. Mangkuto Rajo Sulaiman sendiri memilih wilayah Nagari Paruangan dengan wilayah paling luas dan paling angker. Daerah dipenuhi Hutan rimba dan rawa-rawa disertai hewan buas.

Untuk membuka lahan, Mangkuto Rajo Sulaiman memanfaatkan tenaga dari suku Nias, sebagai suku yang terkenal berani pembuka lahan dan membabat hutan rimba dahulunya. Bahkan Seorang Nahkoda Kapal anak buah Mangkuto Rajo Sulaiman, sempat menjemput beberapa puluhan orang warga suku Nias dengan Kapal Pincalang, membantu manaruko atau pembukaan lahan baru sehingga menjadi perkampungan.
Karena terkenal sakti dan pemimpin yang arif serta Bijaksana, Rajo-rajo lainnya memberinya gelar Manguto Rajo Sulaiman menjadi Rajo Sampono. Gelar tersebut terus melekat dan berlanjut hingga ke generasi berikutnya. Nagari Paruangan pun berubah menjadi Nagari Katapiang karena banyak ditumbuhi Pohon Katapiang, terutama di sepanjang pantai.

Berdirinya Nagari Katapiang dan 6 Suku

Menurut Bahrun Rangkayo Rajo Sampono sebagai generasi ke empat, sesuai pituah atau pepatah orang tua dahulu, Adat di Nagari Katapiang “Hutan sakalek-sakalek hutan, hutan limbago banyak gatah. Koto Piliang inyo bukan, Bodi Caniago inyo antah, tapi tapakai aduonyo”. Sejarah lahirnya Nagari Katapiang setelah memenangkan Perang Manunjun Si Batang Panjang, paham Kelarasan Koto Piliang sendiri dipimpin langsung Panghulu Rajo Sampono atau Mangkuto Rajo Sulaiman. Sedangkan kelarasan Bodi Caniago terdapat enam suku pecahan yakni Suku Caniago, Tanjuang, Jambak, Guci dan Panyalai. Sedangkan Panghulu dan suku Pertama di Nagari Katapiang tersebut yakni suku Tanjuang, Koto dan Panyalai.

Setelah terjadi pertumbuhan pesat dan lahirnya perkampungan-perkampungan baru dari adanya perantauan ranah pesisir selatan, perkembangan persukuan dan wilayah pun semakin luas pula. Banyak perantau melakukan tradisi malakok, yaitu tradisi yang melekatan diri dengan sebuah suku atau penduduk pribumi agar dapat diterima oleh masyarakat setempat.

Budaya malakok memiliki persyaratan yakni sesuai pepatah “Hinggok mancakam tabang basitumpu, dima rantiang dipatah di sinan aia di sauak, di ma bumi dipijak di sinan langik dijunjuang, cupak diisi limbago dituang, adat yang datang dan adat yang mananti”. Artinya, suatu kaum yang berkeinginan malako dengan harapan dapat tinggal dan hidup ke sebuah daerah harus memenuhi segala permintaan yang diinginkan oleh penduduk setempat (penduduk asli). Baik itu berupa permintaan barang, uang atau hewan ternak.

Dahulunya, Nagari Katapiang memiliki empat Korong atau dusun, yakni Korong Simpang, Korong Simpang Duo, Korong Antaro dan Korong Katapiang Ujuang. Setelah terjadi perkembangan beberapa dekade, Nagari Katapiang berubah menjadi 8 Korong yakni Korong Batang Sariak, Simpang Katapiang, Talao Mundam, Olo Bangau, Pauah, Marantiah, Pilubang dan Tabek. (Rudi)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih

Post Top Ad