Mengintip Pemandian Aie Tanang Tandikek Utara, Sekarang Sudah Tenang -->

Mengintip Pemandian Aie Tanang Tandikek Utara, Sekarang Sudah Tenang

Sabtu, 13 Februari 2021, 14.04.00
Inilah Lokasi Pemandian Air Yang di Korong Tandikek Asli Nagari Tandikek Utara Kecamatan Patamuan Padang Pariaman


Oleh :  Abdul Jamil Al Rasyid 

Mahasiswa Sastra Minangkabau Fib Unand 19 Berdomisili Di Nagari Tandikek


Pernahkah kalian pergi ke Lubuak Bonta di Kabupaten Padang Pariaman ? Mungkin kita semua belum pernah kesana tetapi sayup-sayup terdengar kita pernah mendengar. Di Lubuak Bonta ada tempat pemandian yang sangat ramai dikunjungi wisatawan. 


Di sana juga ada air terjun yang terkenal maka di wilayah tersebut terkenal dengan sebutan tampek mandi. 


Nah jika beralih ke arah utara dari Lubuk Bonta maka kita juga akan menemukan pemandian-pemandian yang ramai dikunjungi masyarakat tepatnya di Korong Tandikek Asli Nagari Tandikek Utara Kecamatan Patamuan Kabupaten Padang Pariaman banyak tempat wisata yang berpotensi setidaknya berguna untuk "bali gulo-gulo" masyarakat disana. 


Di Nagari Tandikek Utara misalnya ada air terjun Buburai Sipisang, Lubuak Batu Palimauan dan yang terbaru kini tentunya yaitu Pemandian Aie Tanang. 


Pemandian ini adalah pemandian bersejarah yang dahulunya merupakan tempat pemandian Inyiak Kalikjantan Menurut ceritanya inyiak ini adalah seorang yang pandai alias sakti di daerah Tandikek Asli. 


Kalikjantan merupakan orang yang pandai dalam segala hal. Menurut cerita dia adalah orang yang menemukan kampung Tandikek Asli. 


Dia memiliki suku Piliang dan mempunyai istri yang bernama Sangko memiliki suku sikumbang. Kalikjantan merupakan seseorang yang sejak kecil dididik dengan pengetahuan silek. 


Konon ceritanya ia adalah orang yang berasal dari Darek kemudian turun ke daerah Rantau.


Setelah dewasa ia kemudian hijrah ke Tandikek Asli dan menetap diama. Kalikjantan menurut cerita memiliki agama hindu karena islam masuk ke Tandikek maka ia tidak disukai oleh Katik Sangko.


Katik Sangko merupakan penyebar islam di Tandikek dan Kalikjatan merupakan datuak di Tandikek Asli maka keduanya bertengkar karena Hal ini Kalikjantan berperang dengan Katiksangko peperangan begitu a lot maka akhirnya dimenangkan oleh Katik Sangko.


Peperangan ini dimenangkan oleh Katik Sangko dengan membunuh Kalikjatan dengan memisahkan tubuhnya yaitu kepala, cincin nya. Konon menurut cerita daerah  Sicincin dinamakan Sicincin karena cincin Kalikjantan dikuburkan disana. 


Sedangkan Kepala Hilalang disanalah kepala Kalikjantan Hilang. Di Tandikek Asli badannya yang dikuburkan sampai saat ini dinamakan Koto Nan Alah. 


Ditemukan banyak peralatan yang menurut cerita itu adalah miliknya yaitu Lasuang.


Banyak Kepercayaan Masyarakat misalnya aie tanang yaitu sebuah sungai yang mengalir sampai saat ini air disana cukup tenang. 


Menurut cerita air itu tenang karena pertumpahan darah tentara Katik sangko yang dibunuh dan dihanyutkan sampai disana. 


Sampai saat ini kuburannya masih sering dikunjungi orang untuk bertapa dan kuburannya sampai saat ini disekelilingnya tidak ada semak dan penduduk tidak ada yang Membersihkan karena jauh di kaki gunung Tandikek.


Begitu melegenda cerita Inyiak Kalikjantan ini dan juga tempat pemandiannya. Pemandian ini menurut masyarakat bisa juga menyembuhkan penyakit yang kulit. 


Banyak kepercayaan masyarakat terhadap pemandian-pemandian di Tandikek Utara bisa menyembuhkan penyakit karena daerahnya berada di dekat gunung Tandikek.


Awal tahun 2020 Pemandian ini dibersihkan oleh masyarakat duo korong yaitu Sialang dan Tandikek Asli maka pemandian ini sudah bersih maka dari itu kita bisa melihat pemandian yang sudah bisa dikunjungi sebagai tempat wisata. 


Setelah Sekitaran bulan maret 2020-an sejak covid melanda pemandian ini makin ramai karena hiburan masyarakat keluar daerah tidak ada maka tempat wisata yang mungkin dituju adalah tempat wisata yang ada di daerah kita saja. 


Maka tempat wisata ini paling relevan dikunjungi oleh masyarakat. Tentu tempat pemandian ini yang sudah ditata dengan rapi dengan susunan batu yang sudah ditata dengan serasi mungkin agar terlihat indah karena tempat ini berada diantar dua jurang maka diatas bisa dijadikan tempat berswa foto. 

 

Sebelum puasa tahun 2020 tempat ini sangat ramai dikunjungi karena budaya balimau dalam masyarakat masih mendarah daging.


Balimau adalah tradisi mandi menggunakan jeruk nipis yang berkembang di kalangan masyarakat Minangkabau dan biasanya dilakukan pada kawasan tertentu yang memiliki aliran sungai dan tempat pemandian. 


Diwariskan secara turun temurun, tradisi ini dipercaya telah berlangsung selama berabad-abad. Karena hal ini tempat pemandian ini berkembang dalam masyarakat. 


Banyak masyarakat yang berjualan disana yang otomatis mendongkrak ekonomi masyarakat pada saat itu karena pandemi Covid-19. 


Setelah bulan Ramadhan datang terjadilah hal yang tidak diinginkan pemandian yang awalnya sudah ramai dikunjungi sekitar 100-150  wisatawan lokal sehari-hari pemandian ini tiba-tiba ditutup. 


Banyak faktor yang menyebabkan pemandian tiba-tiba ditutup yang pertama tentunya sengketa lahan dan yang kedua yaitu terjadinya air bah yang besar membuat batu-batu yang disusun punah dan hanyut. 


Kedua penyebab itu tentu yang pertama yang akan menjadi sorotan karena sengketa lahan yang sudah menjadi buah bibir dalam kalangan masyarakat. Sudah menjadi makanan sehari-hari kita tentang sengketa lahan untuk saat ini. 


Pemandian Aie Tanang, Sekarang Tenang saat itu orang yang milik tanah entah darimana asalnya mengatakan bahwa tempat pemandian ditutup. 


Menurut hemat penulis mungkin ada masalah pribadi antara masyarakat dan pemilik tanah. Anehnya sekarang kenapa masyarakat sudah tidak berani menyelesaikan masalah sengketa dengan  pemilik lahan. 


Maka sekarang tempat ini seakan sama seperti namanya yaitu "Aie Tanang" yang sekarang sudah tenang. 


Harapan kedepannya baik pemerintah Nagari Tandikek Utara maupun pemerintah Kabupaten Padang Pariaman agar tempat wisata yang memiliki potensi-potensi agar dikembangkan agar tempat wisata ini bisa juga menjadi landasan sektor perekonomian kedepannya. 


Menurut hemat penulis tempat wisata kalau pengelolaan nya baik, jelas struktur-nya dan tidak dicampur aduk  dengan masalah sengketa lahan dan lain-lain, tempat wisata tersebut akan menjadi maju. 


Untuk itu pemerintah Kabupaten mulailah melihat tempat wisata yang niscaya memberikan potensi agar Kabupeten Padang Pariaman maju untuk kedepannya. 


Untuk kedepannya masalah sengketa seakan-akan membuat pemandian air yang dulunya tenang sekarang sudah benar-benar tenang.

TerPopuler