Dampak Golput Terhadap Kualitas Demokrasi di Era Digital


Oleh: Alif M Danza Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Andalas


Dalam zaman digital yang penuh dinamika ini, isu golput pada saat pemilihan umum muncul sebagai tantangan serius yang semakin tajam. 

Perubahan teknologi telah mengubah tata politik secara keseluruhan dengan memberikan akses tanpa batas terhadap informasi, serta membuka peluang bagi partisipasi politik melalui media sosial. 

Namun, seiring dengan kemajuan digital, angka golput justru menunjukkan kecenderungan meningkat, menyoroti kontradiksi di dalam sistem demokrasi kita.

Pertanyaannya adalah, bagaimana mungkin dalam era digital yang seharusnya memudahkan partisipasi masyarakat secara luas, kita justru menyaksikan sejumlah besar pemilih yang memilih untuk tetap pasif? 

Artikel ini akan membahas akar permasalahan tersebut dan berusaha untuk memahami dampak golput pada demokrasi di era digital, di mana seharusnya suara rakyat sepatutnya menjadi lebih terdengar daripada sebelumnya.

Salah satu dampak yang paling menonjol adalah menurunnya persepsi terhadap legitimasi hasil pemilu. Tingkat kehadiran yang rendah menimbulkan keraguan terhadap legitimasi pemimpin terpilih dan meningkatkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem politik secara keseluruhan

Hal ini merupakan tantangan besar dalam membangun fondasi demokrasi yang kuat. Di era digital yang dipenuhi  media sosial, abstain memberikan peluang terjadinya manipulasi informasi

Dengan tidak mendengarkan suara mayoritas pemilih, ada peluang  penyebaran misinformasi dan manipulasi opini di  media sosial

Hal ini mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap integritas proses pemilu dan menumbuhkan perdebatan mengenai kredibilitas informasi politik yang disajikan

Penting juga untuk memperhatikan dampak abstain terhadap keterwakilan politik. Karena tingginya tingkat non-partisipasi, memilih pemimpin yang tidak mewakili keinginan mayoritas menimbulkan risiko yang nyata

Pemilih yang tidak ikut pemilu cenderung mempunyai pandangan dan alasan yang berbeda, sehingga menimbulkan kesenjangan antara kebijakan yang diambil dan keinginan mayoritas

Meski golput bisa dilihat sebagai ekspresi ketidakpuasan terhadap sistem pemilu, masyarakat di dunia digital sering kali menggunakan bentuk partisipasi politik  lainnya

Petisi online, kampanye  media sosial, dan aktivitas politik digital lainnya dapat memberikan alternatif bagi masyarakat yang memilih untuk tidak berpartisipasi dalam pemilu adat

Namun, harus diakui bahwa abstain dapat memperluas perpecahan digital dan politik.  Jika hal ini signifikan terjadi pada kelompok sosial atau demografi tertentu, hal ini berisiko menyebabkan kesenjangan dalam keterwakilan dan pengambilan keputusan serta kurangnya inklusi dalam proses politik

Dalam konteks abstain, pengaruh opini minoritas yang lebih besar menjadi penting. Tingkat non-partisipasi yang tinggi dapat memberikan  kelompok minoritas aktif kekuasaan dan pengaruh yang lebih besar terhadap politik dan pemimpin  terpilih

Hal ini dapat menimbulkan dampak serius bagi kelompok mayoritas yang diam. Selain itu, tingginya angka abstain dapat dianggap sebagai ekspresi ketidakpuasan yang mendalam terhadap sistem politik.

Kredibilitas lembaga-lembaga politik dapat melemah dan kepercayaan masyarakat terhadap landasan demokrasi dapat melemah. Siklus baru kesenjangan politik  dapat menimbulkan tantangan dalam membangun keterlibatan masyarakat yang positif dan berkelanjutan

Mengingat kompleksitas dampak golput di era digital, diperlukan pemahaman mendalam  untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, memperkuat integritas demokrasi, dan membangun kepercayaan terhadap sistem politik di era yang semakin digital, dan diperlukan langkah-langkah inovatif.

Kesimpulannya, harus diakui bahwa fenomena golput di era digital mempunyai konsekuensi serius bagi landasan demokrasi kita. Meskipun teknologi memungkinkan akses tanpa batas terhadap informasi dan partisipasi politik, tingginya angka golput menimbulkan keraguan terhadap legitimasi hasil pemilu. 

Persepsi masyarakat terhadap integritas proses pemilu sedang dipertaruhkan, sementara manipulasi informasi melalui media sosial mempunyai risiko yang nyata. Selain itu, dampak terhadap representasi politik dan potensi kesenjangan digital memerlukan perhatian khusus. 

Oleh karena itu, diperlukan langkah dan wawasan inovatif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, memperkuat demokrasi, dan memulihkan kepercayaan terhadap sistem politik di era digital yang terus berubah. (**/)


Tidak ada komentar

Mohon Berkomentar Dengan Bahasa Yang Sopan. Terima Kasih

Diberdayakan oleh Blogger.